Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juni 2014

Agar Dada Seorang Hamba Menjadi Lapang Dan Bersinar

|0 komentar

Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahirkan halangan dan tantangan yang mengantar seorang hamba kepada gundah gulana dan ketidaktenangan hati. Namun bagi seorang mukmin sejati, cahaya Al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam adalah penerang jalan menuju kepada kehidupan indah yang senantiasa membuat dadanya lapang dan bercahaya.
Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahirkan halangan dan tantangan yang mengantar seorang hamba kepada gundah gulana dan ketidaktenangan hati. Namun bagi seorang mukmin sejati, cahaya Al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam adalah penerang jalan menuju kepada kehidupan indah yang senantiasa membuat dadanya lapang dan bercahaya.
Hidup dengan dada yang lapang adalah suatu nikmat yang sangat berharga dan dambaan setiap insan. Renungilah besarnya nikmat ini sehingga Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan Nabi-Nya terhadap karunia tersebut dalam firman-Nya,
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. Al-Insyirâh :1)
Dan Nabi Musa ‘alaissalâm setelah beliau dimuliakan menjadi seorang rasul, maka awal doa beliau kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ,
“Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku,”…” (QS. Thohâ :25) Banyak hal dalam tuntunan syari’at kita yang diterangkan sebagai tumpuan-tumpuan berpijak bagi seorang hamba agar senantiasa berhati lapang dan bercahaya. Berikut ini, beberapa pilar pelapang dada seorang hamba, kami simpulkan dari keterangan Ibnul Qayyim[1] dan selainnya :
1. Memurnikan Tauhid.
Memurnikan peribadatan kepada Allah Taqaddasa Dzikruhu adalah tonggak keselamatan, tujuan dari penciptaan manusia, misi dakwah setiap nabi yang diutus kepada makhluk dan itulah adalah hakikat dari Islam yang bermakna berserah diri, ikhlash dan tunduk kepada-Nya. Maka sangat wajar bila memurnikan tauhid adalah hal yang sangat melapangkan dada dan meneranginya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’ân Al-Karîm,
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. ” (QS. Az-Zumar :22)
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. Dan inilah jalan Rabbmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. ” (QS. Al-An’âm :125-126)
Dan dengan memurnikan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla manusia akan hidup di bawah teduhan keamanan dan kesejahteraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. ” (QS. Al-An’âm :82)
Dan dalam Tanzil-Nya,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. ” (QS. An-Nûr : 55)
2. Berpegang teguh terhadap Al-Qur’ân dan As-Sunnah. Allah Jalla wa ‘Alâ menurunkan Al-Qur`ân sebagai rahmat dan kebahagian bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. ” (QS. An-Nahl : 89)
Dan Allah Ta’âlâ berfirman,
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ân suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`ân itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian. ” (QS. Al-Isrô` : 82)
Dan Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam menyatakan,
لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلِهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ بَعْدِيْ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ
“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas suatu yang sangat putih, malamnya sama dengan siangnya, tidaklah seorangpun menyimpang darinya setelahku kecuali akan binasa. ” [2]
Maka sangatlah lumrah bagi siapa yang berpegang teguh terhadap tuntunan Al-Qur`ân dan As-Sunnah akan senantiasa membuat dadanya lapang dan bersinar penuh petunjuk dan kebahagian tanpa ada kesensaraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,
“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. ” (QS. Thôhâ : 123-124)
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur`ân ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). ” (QS. Thôhâ : 1-3)
3. Berbekal Ilmu Syari’at. Tatkala seluruh kebaikan bagi manusia tercakup dalam ilmu syari’at maka segala kebahagian dan ketenangan, keberhasilan dan kebahagian manusia sangat bertumpu pada ilmu syari’at. Karena itu Allah Ta’âlâ tidak memerintah Nabi-Nya untuk meminta tambahan nikmat apapun selain dari tambahan ilmu. Allah Ta’âlâ berfirman,
“Dan katakanlah, “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. ”. ” (QS. Thôhâ : 114)
Dan dengan ilmu syari’at itulah diraihnya berbagai derajat keutamaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam firman-Nya,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. ” (QS. Al-Mujâdilah :11) Berkata Ibnul Qayyim rahimahullâh, “Sesungguhnya ilmu itu melapangkan dada dan meluaskannya sehingga ia menjadi lebih luas dari dunia. Dan kejahilan akan mewariskan kesempitan, keterbatasan dan keterkurungan. Kapan ilmu seorang hamba semakin luas maka dadanya akan semakin lapang dan lebih meluas. Namun ini bukanlah pada setiap ilmu, bahkan hanya pada ilmu yang terwarisi dari Ar-Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam yaitu ilmu yang bermanfaat. Orang-orang yang berilmu (merekalah) yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling indah akhlaknya dan paling baik kehidupannya. ” [3]
4. Kecintaan Kepada Allah.
Salah satu sifat yang wajib dimiliki oleh seorang yang beriman bahwa kecintaannya kepada Allah adalah yang terbesar dan melebihi kecintaannya kepada seluruh makhluk. Allah berfirman,
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. ” (QS. Al-Baqarah :165) Kecintaannya kepada Allah tersebut akan mengantar seorang hamba menuju kehidupan yang sangat indah, kelapangan hati dan ketenangan jiwa karena rongga hatinya hanya terpenuhi oleh kecintaan kepada Allah dan ketergantungan kepada-Nya. Wajarlah bila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga (sifat) yang tidaklah terdapat pada seseorang, pasti ia akan mendapatkan kelezatan iman; hendaknya Allah dan Rasul-Nya yang paling ia cintai melebihi selain keduanya, dan ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan hanya karena Allah, serta ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka. ” [4]
5. Senantiasa bertaubat.
Menyadari kekurangan, menyesali kesalahan dan bertaubat kepada Yang Maha Mencipta adalah diantara sifat-sifat yang memberikan berbagai keajaiban dalam kehidupan seorang hamba dan sangat menerangi hati serta melapangkan dadanya. Karena itu, sikap senantiasa bertaubat sangat ditekankan dalam tuntunan syari’at Islam yang mulia. Allah menjamin keberuntungan bagi orang-orang yang senatiasa bertaubat,
“Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung. ” (Q. S. An-Nûr :31)
Dari doa Nabi Ibrahim ‘alaissalâm untuk mengujudkan keamanan dan kesejahteraan pada negeri Mekkah yang dirintisnya,
“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan berilah taubat untuk kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. ” (Q. S. Al-Baqarah :128)
Dan sangatlah indah kehidupan orang-orang yang bertaubat tatkala sifat mulia mereka itu akan memberikan berbagai keutamaan dan kenikmatan sebagai hamba-hamba yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ” (Q. S. Al-Baqarah :222)
6. Dzikir.
Dzikir adalah penyejuk hati dan penenang jiwa. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram. ” (Q. S. Ar-Ra’d :28)
Dengan dzikir seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dan pahala yang sangat besar,
“…dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. ” (Q. S. Al-Ahzâb :35)
Dan keberuntungan bagi orang-orang yang banyak berdzikir,
Dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung. ” (Q. S. Al-Jumu’ah :10)
Dan sungguh dzikir membuat hati seorang hamba menjadi lapang dan bersinar tanpa ada kerugian seperti yang terjadi pada orang-orang lalai,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. ” (Q. S. Al-Munâfiqûn :9)
7. Berbuat baik kepada Makhluk.
Memberi manfaat kepada makhluk dengan harta, badan, kedudukan dan selainnya dari berbagai bentuk perbuatan baik adalah hal yang sangat melapangkan dada seorang hamba dan meneranginya. Karena itu Allah ‘Azza wa Jalla memerintah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. ” (Q. S. An-Nahl :90)
Dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةِ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةِ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ
“Sesusngguhnya Allah telah menetapkan untuk berbuat kebajikan terhadap segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh perbaiklah cara membunuhnya, apabila kalian menyembelih perbaiklah cara menyembelihnya dan hendaknya salah seorang dari kalian mempertajam pisaunya dan membuat tenang sembelihannya. ” [5]
Dan di akhirat kelak Allah menjanjikan,
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. ” (Q. S. Adz-Dzâriyât :15-16)
Demikian beberapa pilar pelapang dada seorang mukmin. Dan perlu diketahui bahwa segala perkara yang bertentangan dengan apa yang disebutkan di atas pasti akan memberikan kesempitan, kesesakan dan gundah gulana. Karena itu, tidak seorang pun yang lebih sempit hatinya dari pelaku kesyirikan. Dan siapa yang berpaling dari Al-Qur`ân dan As-Sunnah maka ia akan senantiasa berada dalam berbagai kesengsaraan. Orang yang tidak memiliki ilmu syar’iy akan jauh dari makna ketenangan. Hati yang tergantung kepada selain Allah akan merasakan berbagai kepedihan dan kepahitan. Dan hati yang lalai dari dzikir kepada Allah bagaikan ikan yang dipisahkan dari air. Dan jeleknya hubungan dengan makhluk lain akan melahirkan berbagai problem dalam kehidupan. Dan demikianlah seterusnya. Tentunya banyak tuntunan pelapang dada yang belum bisa diuraikan disini. Namun kami berharap keterangan-keterangan di atas bisa menjadi pencerahan dan penyenjuk bagi setiap muslim dan muslim dalam mempersiapkan bekal untuk menyonsong kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. Waffaqallâhu Al-Jamî’ li mâ yuhibbihu wa yardhâhu.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.
[1] Dalam kitabnya Zâdul Ma’âd 2/22-26, cet. Ke-3 dari Mu`assah Ar-Risalah
[2] Diriwayatkan oleh Ahmad 4/126, Ibnu Mâjah no. 5, 43, Ibnu Abi ‘Âshim no. 48-49 dan Al-Hâkim 1/96 dari hadits Abu Dardâ` radhiyallâhu ‘anhu. Dan dishohihkan oleh Al-Albâny dalam Zhilâlul Jannah 1/27.
[3] Zâdul Ma’âd 2/23
[4] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu.
[5] Hadits Syaddâd bin Aus radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim.
Sumber :
an-nashihah. com/index. php?mod=article&cat=PenyejukHati&article=83 sumber: www. darussalaf. or. id, penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi

Selasa, 13 Mei 2014

Puasa Ayyamul Bidl / Pertengahan Bulan Hijriyyah

|0 komentar
Perbanyaklah melakukan amalan sunah di Bulan Rajab
Jangan Lupa Besok Puasa Tiga Hari..
Disunnahkan puasa tiga hari setiap bulan, yaitu setiap tanggal 13, 14 dan 15 bulan-bulan Hijriyyah.
Namanya puasa Ayyaamul Bidl atau hari-hari terang ketika Bulan Purnama.
...
Niatnya, puasa sunnah Ayyaamul Bidl.
Keutamaannya banyak, diantaranya sebagai bekal akhirat, seperti puasa sebulan [kalau dikerjakan rutin setiap
bulan, seperti puasa setahun] dan baik untuk kesehatan..
Diantara Dalil-Dalilnya:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam berwasiat kepada tiga orang Sahabat Beliau supaya puasa tiga hari setiap bulan, yaitu; Abu Hurairah, Abu Darda' dan Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhum.
[HR. Bukhari, Muslim, dll]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma, "Dan berpuasalah tiga hari pada setiap bulan. Karena sesungguhnya kebaikan itu akan (dilipatkan) dengan sepuluh (kali) lipat. Oleh karenanya engkau seolah-olah berpuasa selama sebulan penuh.”
[HR. Bukhari dan Muslim]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada
Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu
tentang pelaksanaannya: “Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari dalam setiap bulannya maka berpuasalah pada (tanggal) 13, 14 dan
15 (maksudnya bulan hijriyyah).” [HR.Tirmidzi dg sanad hasan]
Sebarkan info ini:supaya mendapat
ridha dan pahala dari Allah.
Semoga Allah memudahkan dan
mengabulkan, aamiin.
Lihat Selengkapnya

Rabu, 16 April 2014

Syahid bagi Ibu yang Melahirkan

|0 komentar
17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali. 
“Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini,” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ”Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk dikirim via bis ke Kotabangun”. 
Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran.
Istriku, beruntung aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasika­n diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku.
Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh. Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu. Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia. Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu, pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”. Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.
Kehangatanmu membuat anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk ke kamar, berbondong-bond­ong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang selalu memegang-megang­ bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.
Kadang jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum dan berkata, "cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi ke Umi, Abi aja yang ndak tahu.”

Rasulullah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.
Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak orang. Kamal berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah, Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi. Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah. Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.
Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon menanyakan kapan liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu KH. Fachrudin, seringkali menelpon, "Kita mau ngadain acara ini, kamu ke Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang sering bepergian ke Jawa, ketika mendarat di Balikpapan pun sering berkata, "Baru dari Jawa, mau ikut saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-kepon­akanmu pun sering bertanya, “Acil Robiah kapan ke Samarinda?” Jika kita liburan ke Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan salam. “Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”
Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul. Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.

Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Kulihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.
Kamu juga aktif mengisi kajian Siroh Shahabiyah di Radio IDC FM. Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain, mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.
Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci, teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakt­erku, dan teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku­. Terimakasih telah memahami diriku.
Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa bertahan lebih lama di kota Mekah.
Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Muhadi mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku. Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja untukmu. Bahkan kau berkata, "Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan uang transport dari mengisi majelis-majelis­ ta’lim untuk menunjang dakwahmu.
Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil memelukku di saat kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan kesetiaanmu. Aku tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat ketika engkau bermanja kepadaku.
Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang mendatangkan ustadz yang berkualitas kau berkata, “Harus duluan nih biar dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang kau terhambat untuk berada di depan. Pernah kau begitu sedih karena tidak dapat menghadiri ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2 agar kau bahagia.
Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam) yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya.­ Kamu pun menulis jawaban tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab sambil bercanda, "Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu istriku.
Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu menghadap Tuhanmu. Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari. Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.
Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu­ kelak saat anak-anak sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya. Karaktermu yang tidak pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis.
Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat saya menyampaikan curhat.” Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “Kasihan ada yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga Allah segera kasih dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka merasakan kebaikanmu.
Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Kulihat, kamulah yang lebih pintar mengaplikasikan­ teori ke dalam praktek dunia nyata. Sebenarnya aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain. Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetang­ga kita. Terkadang aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “Malu ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu.
Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan teman-teman yang lain, nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.” Dengan sabar kamu melatih mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang diantara mereka sedang berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata, "Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”
Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau menjawab,”Aku pakai uang daganganku”. Kau­ kadang membelikanku baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata, "Ya sudah pake uang aku aja.”
Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu menderita. Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat takut kehilangmu. Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal, aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah mendahuluimu.
Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang kudengar, kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali. Saat itu aku bernazar, aku pun bertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu mereka selamat.
Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan semangatmu, ”Cep­at sembuh, anak-ana­k kita menunggumu di rumah.” Engkau mengangguk-angg­uk. Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu. Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.
Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku, "Mba Robi itu kalau saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa. Kalau berdoa, saat kalimat wa amitha 'ala syahaadati fii sabiilik (matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan kekuatan doa.”
Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari”. Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.
Ustadzah Sujarwati berkata, "Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumah ustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian menangis karena teringat istri sampeyan.” Banyak yang terkejut dengan kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk kemudian menangis karena kehilanganmu.
Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan, "Sahabat-sahabat­nya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS Kaltim pun datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut untuk mensholatimu dan menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.
Sesudah disholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda. Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata bahwa kamu sudah menganggap beliau, guru mu membaca Quran, seperti ayah sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi. Sering kamu mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.
Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya, KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda, kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara (Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di masjid Kotabangun.
Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu ke liang lahat. Seseorang berkata, "Antum duduk saja biar yang lain saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah kehilangan kesempatan membahagiakanmu­ di dunia. Aku sudah kehilangan kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.
Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan berkata, "Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah wanita lain yang mau menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena tidak ingin merepotkan suaminya.
Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah, putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik untukmu.
Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu. Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali denganmu. Selamat jalan Khadijahku.....



Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisiku

Yang bersyukur mendapatkanmu

Suamimu,
Abu Muhammad

Jumat, 11 April 2014

Joanna Francis : Wahai Muslimah, Aku Iri Terhadap Kalian

|0 komentar
Sebuah e-mail dari Ibnu Mu’min Al-Barantiy
Joanna Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu.
Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.
Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk “Kepada Saudariku Para Muslimah”;
Ditengah serangan Israel ke Libanon dan “perang melawan teror” yang dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di setiap rumah di AS.
Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingin mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.
Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian.
Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.
Perangkap Setan
Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.
Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.
Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.
Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.
Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.
Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.
Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.
Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.
Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih “seksi” daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah “misteri” dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.
Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.
Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.
Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.
Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.
Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah!
Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.
Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.
Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal. Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.
Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.
Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.
Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.
Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.
Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.
Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Keluarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.
Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah!

sumber: http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/15/joanna-francis-wahai-muslimah-aku-iri-terhadap-kalian/

Jumat, 18 Oktober 2013

Aku Muslim Bukan Teroris

|0 komentar

Setelah Masuk Islam, Yahya Dibilang ‘Teroris’ WAJAHNYA mirip Justin Bieber. Dan ketika remaja lain seusianya asyik dengan dunia, Yahya Schroeder justru memutuskan masuk Islam di usia 17 tahun. Itu terjadi di tahun 2006 silam. November 2006, menjadi bulan bersejarah bagi remaja Jerman itu. Karena pada saat itu ia yang masih berusia 17 tahun mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim. Ia memilih Yahya, sebagai nama Islamnya dan sejak itu remaja Jerman yang kini tinggal di Postdam, dikenal dengan nama Yahya Schroder. Ayah ibunya bercerai, dan hidup terpisah. Yahya ikut dengan ibunya, namun satu bulan sekali, ia menjenguk ayahnya. Jika waktunya pas, ia menghadiri pengajian warga Muslim di kediaman ayahnya. Yahya hidup berkecukupan dengan ibu dan ayah tirinya di sebuah desa kecil di Jerman. Ia tinggal di rumah yang besar lengkap dengan kolam renang yang luas. Di kamarnya ada TV dan play station dan Yahya tidak pernah kesulitan dalam masalah uang. Seperti remaja lainnya, Yahya sering pergi bergerombol bersama teman-temannya, minum alkohol atau melakukan hal-hal yang konyol. Tapi semua kenikmatan dunia itu harus ia tinggalkan ketika ia memutuskan masuk Islam. Setelah menjadi seorang mualaf, Yahya memilih tinggal dekat ayahnya yang sudah lebih dulu masuk Islam, di Postdam dekat kota Berlin. Yahya mengaku tidak merasa bahagia meski saat masih ikut ibu dan ayah tirinya yang kaya, hidupnya serba enak. “Saya mencari sesuatu yang lain,” ujarnya. Yahya mengenal komunitas Muslim di Postdam ketika ia berusia 16 tahun, lewat ayah kandungnya yang lebih dulu masuk Islam pada tahun 2001. Ketika itu, ia biasa mengunjungi ayah kandungnya sebulan sekali dan sering ikut sang ayah menghadiri pertemuan-pertemuan dengan komunitas Muslim yang diselenggarakan setiap hari Ahad. Yahya merasa tertarik dengan Islam dan ayahnya memperhatikan hal itu. Hingga suatu hari sang ayah mengatakan tidak mau membahas soal Islam ketika mereka sedang berdua saja. Ayah Yahya menginginkan putranya itu belajar dari orang-orang yang ilmunya tentang Islam lebih tinggi agar jika Yahya masuk Islam tidak dipandang cuma ikut-ikutan apa yang telah dilakukan ayahnya. “Saya setuju dengan ayah dan saya mulai menghadiri pertemuan-pertemuan itu sendiri, setiap bulan. Tapi saat itu terjadi sesuatu hal yang mengubah cara berpikir saya,” ujar Yahya. Yahya bercerita, ia mengalami kecelakaan saat pergi berenang bersama komunitas Muslim. Ketika ia melompat ke kolam renang dari ketinggian, kepalanya membentur dasar kolam renang dan tulang punggungnya patah. Ayahnya membawa Yahya ke rumah sakit dan dokter di rumah sakit itu mengatakan hal yang membuat gentar hatinya. “Punggungmu mengalami patah tulang yang parah, satu saja gerakan yang salah, bisa membuatmu lumpuh,” kata dokter. Yahya harus menjalani operasi. Beberapa saat sebelum masuk ruang operasi, teman Yahya di komunitas Muslim bernama Ahmir memberinya semangat, “Yahya, sekarang engkau berada di tangan Allah. Ini seperti naik rollercoaster. Sekarang engkau sedang berada dalam puncak kenikmatan naik sebuah rollercoaster dan percayalah pada Allah.” Kalimat Ahmir dirasakan Yahya sangat luar biasa. Ia sangat termotivasi dan semangat hidupnya muncul kembali. “Operasi berjalan selama lima jam dan saya siuman setelah 3 hari. Saat terjaga tangan kananku sulit digerakkan. Namun, entah mengapa, saya merasa orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Bahkan kepada dokter kuberitahukan bahwa saya tidak peduli dengan cedera yang kualami. Saya justru bahagia Allah masih mengizinkanku hidup,” ujar Yahya kepada sang dokter kala itu. “Dokter mengatakan saya harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi ternyata saya dirawat hanya dua pekan saja! Itu karena saya latihan rutin dan penuh disiplin. Satu hari dokter berkata: ‘Hari ini kita coba latihan naik tangga ya’, padahal tanpa sepengetahuan mereka, sebenarnya saya telah melakukan latihan atas inisiatif sendiri, dua hari sebelum dokter datang,” sambungnya. Begitulah, akhirnya ia dapat menggerakkan kembali tangan kanannya seperti sediakala dan cuma dua pekan di rumah sakit. Kecelakaan itu mengubah hidup Yahya. Ia jadi suka merenung. Ia mulai serius berpikir tentang hidup ini dan satu lagi, soal Islam. “Keinginan untuk memeluk Islam makin menjadi-jadi, yang berarti harus meninggalkan rumah, keluarga yang kucintai dan semua kemewahan hidup di sana,” ungkapnya. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Potsdam, tinggal bersama ayahnya. Kepada ayahnya ia mengatakan, memutuskan masuk Islam—itu terjadi ketika ia pertama kali masuk sekolah. Di tempat baru, tidak membuatnya lebih mudah untuk mempelihatkan keislamannya. Ketika teman-teman sekolahnya tahu ia seorang Muslim, mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil. “Ada teroris”, “Usamah bin Ladin datang”, “Islam itu kotor”. Begitu mereka mengejek Yahya. Sebagiannya malah ada yang menganggapnya gila. Lebih parahnya lagi, bahkan ada yang tidak percaya ia orang Jerman asli. “Saya bisa maklumi, karena mereka hanya tahu Islam dari media yang cenderung memojokkan Islam,” tukasnya. Akan tetapi setelah 10 bulan berjalan situasinya benar-benar berubah. Sikap teman-temannya berubah drastis. Rekan-rekan sekelasnya berhenti bersikap usil. Malah mereka sering bertanya tentang Islam. Pandangan mereka tentang Islam pun berubah. Menurut mereka, ternyata Islam itu cool—keren! “Perubahan itu tentu saja tidak serta merta. Secara halus dan perlahan saya melakukan dakwah di kelas. Tentu saja bukan dengan ceramah agama. Sikap dan tingkah lakulah yang banyak membantu mereka mengenal Islam. Percaya tidak, saya bahkan punya ruang shalat khusus. Padahal sayalah satu-satunya siswa Muslim di sekolah itu,” ujar Yahya senang. Teman-teman Yahya menaruh respek padanya sebagai seorang Muslim. Ketika ada acara, mereka secara khusus menyiapkan makanan halal untuknya. Misalnya acara bakar sate, maka mereka siapkan dua alat pembakar. Satunya untuk mereka dan satunya lagi khusus untuk Yahya dan rekan-rekan Muslimnya. Selepas memeluk Islam, kesibukan Yahya kini bertambah. Ia menjadi produser film. YaYa Productions nama perusahaannya yang berlokasi di Potsdam. Produksinya, terutama film-film dokumenter yang kebanyakan mengisahkan perjalanan hidup seorang mualaf dan kebanyakan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan bahasa Inggris. “Tujuan saya membuat film adalah untuk menunjukkan kepada kalangan non-Muslim bagaimana Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang ditampilkan media selama ini. Mudah-mudahan film-film itu bisa mencerahkan pandangan mereka,” ujar Yahya yang meyakini pekerjaannya itu sebagai bagian dari dakwah.

sumber: (eramuslim/islampos) - See more at: http://salam-online.com/2013/10/setelah-masuk-islam-yahya-dibilang-teroris.html#sthash.oJqy05UM.dpuf

Rabu, 02 Oktober 2013

Beginilah luka memberi obat,

|0 komentar

Adakah jalan ini lengang akan kerikil-kerikil dan duri perjalanan? Adakah jalan ini jauh dari luka dan simbahan darah? Adakah jalan ini takkan pernah bertaburan bunga? Adakah jalan ini sungguh melelahkan? Adakah jalan ini sungguh tak menyenangkan? Adakah luka yang tak bisa terobati? Adakah luka yang tak bisa sembuh? Adakah sakit yang tak ada obatnya? Adakah sesak di dada ini akan tenang tanpa mau menghilangkan riak yang menghantam dinding-dinding rusuk dan bilik-bilik jiwa? Adakah rasa ngilu tak ada obatnya sama sekali?
Saudaraku,
Jangan menjadi kader yang kolot. Setiap luka yang kita rasa maka Allah tempat mengadunya, tak ada manusia yang bisa memberikan perhatian seperti yang kita inginkan, tak ada manusia yang bisa memberikan kenyamanan seperti apa yang kita inginkan meskipun ia seorang murobbi. Berhentilah memalaikatkan manusia dan manusiakanlah manusia kembalikan mereka pada kodratnya. Apa yang kita alami, teriris, tersayat, terdera dan perih bukan tak ada obatnya, bukan juga alasan untuk berhenti dalam derap perjuangan. Jika orang lain melangkah dengan tegap maka syukurilah ketika kita masih bisa melangkah dalam gontai ternyata ketika manusia tak memandang kita masih bisa merasakan Allah ada dalam keseharian kita, ketika orang melangkah seribu kali lebih cepat dari kita maka jangan merasa hina jika langkah kita terseok. Ingatlah, Allah tidak memandang sesuatu banyak atau lebih cepat, tapi Allah memandang proses yang kita lalui seiring dengan keikhlasan dalam melangkahkan kaki.
Saudaraku….
Memberi itu bukan hanya saat lapang, bukan pula ketika punya kelebihan dan ketika bahagia. Memberi itu juga ketika sempit, kekurangan dan duka. Lantas apakah engkau harus merutuki diri dan bernostagia dengan kejayaan masa lalu? Lalu menyesal dan tak mau berbuat sedikitpun untuk kebaikan? Bahkan mundur dan berbalik menyerang? Menyesal dan penuhi hati dengan dendam?
Tidak saudaraku, sungguh tidak karena itu hanya jalan yang keruh dan ditumpahkan dengan kekeruhan solusi, bertanya dan berharap pada Allah, yakni ia akan tunjuki jalan yang lurus untuk memperbaiki hati kita yang bengkok, jangan peduli dengan ocehan manusia, pedulilah pada penghargaan yang Allah berikan. Pedulilah pada Maha kasih dan Maha sayang-Nya. Tak perlu menyesali kenapa tercebur dalam buncah pengorbanan ini, hargai diri kita maka kita akan terobati, jika semua bahagia maka apa arti kebahagiaan jika tak ada pembandingnya? Jika semuanya mulus lantas kapan keindahan itu terasa memberikan simponi dan warna? Jika tak ada kelelahan lantas apakah akan terasa manisnya perjuangan? Lantas apakah kelelahan yang tak berarti yang kau inginkan atau kelelahan yang manis?
Saudaraku,
Wasilah da’wah ini banyak sekali, kampus atau luar kampus tak akan mengurangi izzahmu untuk tetap menjadi orang yang terbaik.

SABAR

|0 komentar

Ketika guru memasuki kelas pagi itu, suasana hening, tak ada satu orang murid pun yang bergening. Wajah mereka terpekur dan dibaluti dengan kesedihan. Belajar menerawang dan tanpa semangat. Guru mulai bingung menghadapi perilaku anak-anak ini, tidak hanya satu orang melainkan seiisi kelas berprilaku sama. Namum proses belajar mengajar tetap berlangsung, hingga diakhir jam belajar Ibu guru bertanya kepada salah seorang anak “kenapa kamu tidak bersemangat hari ini?”
“saya sedih bu”
“kenapa?”
“karena kepergian sahabat kami bu”
Guru mulai berargumen panjang lebar “nak, setiap yang hidup akan menemui kematian, tiap yang ada akan kembali tiada, tiap yang datang akan pulang, tiap yang hadir akan kembali pada pemiliknya. Kecelakaan yang menimpa sahabat kalian, adalah pelajaran bagi kita yang ditinggalkan, kematian tidak bisa kita hindarkan walau sesaat. Ibu juga bersedih, namun bersedih bukan berarti kita menghentikan siklus kehidupan kita, ia yang telah pergi telah memenuhi janjinya pada Rabbnya, kita yang hidup harus menjalankan sisa umur kita dengan sebaiknya. Teman kalian yang pergi adalah seorang anak yang cerdas, berprilaku baik. Maka balaslah rasa sedih kalian dengan terus berprestasi meneruskan langkah sahabat kalian. Kalian tau sahabat kalian bercita-cita menjadi apa? Dia bercita-cita menjadi kepala Dinas Pertanian, maka berusahalah untuk menjadi bagian dari cita-citanya. Bukan dengan bermurung diri begini, tidak semangat belajar, tidak mau makan, tidak mau beraktifitas karena perilaku ini tidak akan mengubah keadaan sedikitpun dan ini sama dengan meratapi dan Allah tidak senang dengan orang yang meratap”.
Semua murid yang ada di kelas, maju dan menyalami gurunya “maafkan kami bu, kami janji akan belajar dengan giat”.
Ternyata ketika kita tidak dihiraukan siswa, bukan mereka sedang tidak ingin belajar atau tidak menghargai guru, tapi karena ada yang menjadi beban pikiran mereka, karena ada yang mengganjal di hati mereka. Tidak ada murid yang nakal melainkan hanya guru yang tidak sabar, tidak ada murid yang bodoh melainkan hanyaguru yang tidak sukses dalam mengajar. Seekor gajah saja bisa diajarkan apalagi manusia.

Jumat, 21 Juni 2013

Karena Ada Cinta

|0 komentar

Manusia tak pernah terlepas dari yang namanya cinta, kata ini begitu sakral dalam kehidupan manusia dan begitu berharga bagi siapapun, tentu saja karena tak ada satupun manusia yang bisa hidup tanpa cinta, tak ada satupun manusia yang tidak butuh cinta. Bahkan ada yang membunuh karena cinta, ada yang menyakiti karena cinta, ada yang bahagia karena cinta, ada yang terluka karena cinta, ada yang menderita karena cinta, ada yang menemukan hidayah karena cinta, ada yang saling berbantahan karena cinta. Cinta terkadang membuat alfa namun itu hanya karena kelalaian belaka, namun cinta memberikan kehidupan saat cinta digunakan pada tempat yang pantas sebagai kedudukannya, karena cinta juga bisa membuat manusia lupa diri dari penciptanya. Tak ada manusia yang tak butuh cinta, semua butuh cinta, tiada kehidupan tanpa cinta dan kasih. Bukankah setiap manusia itu juga lahir dari yang namanya cinta, yang saling menentramkan antara satu dengan yang lainnya.
Masa kecil yang kita tau tentang cinta hanya ketika kita dibelikan ini dan itu, remaja mulai berubah dan patah lagi dewasa sudah dengan irama cinta masing-masing. Ada yang berusaha membendung dan terkadang meluap dan ada yang tumpah sehingga tak berdayaguna lalu ada pula yang tertahan dan beku tak terpecahkan hingga ajalpun datang menjemput. Perihal cinta Allah yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, cinta itu indah karena inti pekerjaannya adalah memberi, memberi apa saja yang dibutuhkan oleh orang yang dicintai untuk hidup lebih baik dan tumbuh karenanya. Allah memberi apa saja yang kita butuhkan, inilah cinta yang sempurna dan paripurna, tak ada satu kekasihpun yang bisa memberikan segala yang dibutuhkan orang yang dicintai dan mencintainya, bahkan kerap orang yang dicintai tersakiti dan kadang tak terobati, karena ketika lisan tersalah masih bisa diobati, namun saat hati tersayat walau sudah terucap maaf dilisan namun terkadang masih membekas dihati dan terkadang kerap muncul kembali. Namun Allah Maha Pengampun dan penerima taubat, sekalipun hidung telang bertengger anting-anting dan mulut sudah seperti lautan alkohol, ketika petunjuk diberikan tak siapapun yang bisa menghalangi untuk kembali ke jalanNya, tak ada yang bisa menghadang dengan pangkat apapun dan dengan rayuan apapun.
Cinta Allah tak pernah tak berdayaguna, tak pernah beku kepada siapapun, cintaNya mengalir bagaikan terusan yang tak henti mengalir walaupun hamba tak memenuhi janjinya, cinta yang tak pernah kering sekerontang apapun jiwa manusia yang berjasad. Cinta Allah pada hambanya tak pernah terkira berapa besar dan banyaknya, banyak sekali. Tak pernah terkikis oleh erosi dari dataran manapun.
Berhenti mencintai kefanaan itu adalah terbaik karena hanya akan menghantar pada kebrutalan sikap dan tingkah laku. Hanya menyampaikan pada kesenangan sesaat dan diakhiri dengan penyesalan tiada tara. Rasulullah tidak pernah menganjurkan kita untuk terlalu mencintai, dan juga tak menganjurkan kita untuk terlalu membenci, karena boleh jadi yang kita amat cintai suatu saat akan kita benci dan yang kita benci bisa jadi kita cintai. 

Selasa, 06 November 2012

Beginikah rasanya ta’aruf?

|1 komentar
Tulisan ini terinspirasi dari percakapan ringan dengan teman yang baru saja melangsungkan proses ta’aruf sore kemaren(04/11/12). Cengkrama kecil yang menggelikan tapi bermakna insyaallah. Menjelang tidur terdamparlah tangan menggenggam HP, teringat teman yang ta’aruf, HP yang tak kurang 3xsehari jatuh dari genggaman, saku atau tas kerjaku. Udah kayak minum obat aja, eum mungkin kalau bisa ngomong dan menjerit udah dilakukannya, trus kalau ada daging mungkin dah bengkak-bengkak, wowowowow... kasihan HP jelekku, jelek-jelek gitu banyak jasa lho, gak akan lupa tuanmu samamu HP. Jika aku bisa menggantikan otakmu, sudah kurakit engkau menjadi blackberry oh Hpku. Jika aku bisa mengganti kornea matamu, sudah ku acak-acak menjadi screan ipad. Jika aku bisa mengganti telingamu, sudah kutempel anting-anting speacker munasah. Oh Hpku tersayang, sebentar lagi kau akan melayang. Oalah, ngawur yah...kembali pada Ta’aruf, lupaka saja HP karena ia sudah masuk bengkel. Ta’aruf seperti menyibah bunga diantara daun, adakah bunga yang tampak indah adanya, adakah bunga mau menerima kumbang. Ta’aruf hanya sebuah ritual yang dapat diartikan berbeda-beda, ada yang ta’arufnya bertahun lamanya, adapula yang ta’aruf belasan tahun, adapula yang cuma beberapa menit saja, ada pula yang beberapa detik. Ya, itulah pendefinisian yang berbeda-beda adanya, nyata loh itu, gak boongan. Tinggal lih dipilih yang mana yang diinginkan, lih dipilih, dipilih dipiliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih, mang obral. Ta’aruf dilakukan untuk mengenal, dalam makna harfiyah jelas bahwa ta’aruf itu mengenal atau perkenalan. Ta’aruf tidak dilakukan oleh dua orang yang bisa bergandeng tangan, yang bisa mengatakan ‘ILU forever sayang’, yang berangan untuk bisa bersamanya. Tapi ta’aruf yang baik antara dua orang yang dihadiri wali tanpa ada acara nonton bareng yuk, makan bareng yuk, nikah yuk (modal dikit mau dapet banyak). Ta’aruf itu mahal, bukan barang obralan. Nantikan kisah ini pada part selanjutnya. Dari tadi gak ada seriusnya ya, ehem...kita coba serius. Ta’aruf untuk mewujudkan sakinah mawaddah warahmah, tidak dengan rentetan pertanyaan yang tak jua mungkin bisa dijawab oleh orang yang kita baru kenal, bahkan seorang pacar sekalipun dia berusaha menunjukkan kesempurnaan dihadapan pasangannya, sedang ta’aruf begitu natural, begitu bertemu dengan wali dan mahram, begitu diberi kesempatan untuk mengutarakan maksud hati, sontak lidahpun kelu hendak berkata, yang tadinya bawa pertanyaan sekoper gak jadi diutarakan, bahkan satu katapun tak terucap, hanya ada sunggingan senyum yang tak tau bagaimana mendefinisikan rasa. Pertanyaan sekoper ternyata dikalahkan oleh istikharah dan musyawarah, sebaik-baik istikharah adalah yang diiringi dengan musyawarah. Apakah semudah itu jatuh cinta dalam ta’aruf? Cinta bisa diukir hati bila Allah telah dilibatkan dalam menata langkah, tidak mengetahui siapa dia bukan menjadi penghalang bagi langkah tegap maju jalan, malah menjadi sebuah pemicu untuk menjadi lebih meningkatkan kualitas cinta ketika benar ia menjadi pendamping hidup, sedang tak akan larut dalam kegalauan mendalam saat tak jadi dipersunting atau menyuntingnya.tau mengapa? Karena cinta disana suci tidak terkotori oleh racun dunia. Kita sebagai ummat muhammad dibekali untuk melihat ketampanan, harta, keturunan dan agama. Agama ini indah, suatu yang utama tidak diletakkan diawal, tapi diletakkan diakhir, pilihan berdasarkan agama akan menutupi segala kriteria yang ada sebelumnya, karena agama ini sempurna. Innaddina ‘indallahil islam.... Agama sebagai bentuk representatif dari segala karakter. Jikalah agama diletakkan diawal maka tidak akan berlaku kriteria yang lainnya. Ingat, tampan itu relatif tapi juga harus tau jelek itu mutlak, tapi gak ada yang jelek kok ciptaan Allah, barang siapa menghina ciptaan-Nya maka iapun sedang mengolok-olok Tuhannya, disentil Tuhan baru tau rasa ntar. Trus, kaya itu relatif, tapi miskin itu..... miskin itu akan dicukupkan dengan menikah. “maka nikahkanlah laki-laki yang sendiri diantara kalian, jika dia miskin maka akan Allah tambahkan rezekinya...” Pernikahan dengan harapan sakinah mawaddah warahmah, pernikahan yang tak hanya bisa merasakan bahagia tapi bisa merangkul segala liku yang menjadi warna dalam kehidupan, warna ini yang akan menambah kecintaan. Warna ini yang akan meningkatkan kualitas dan kuantitas cinta, kenapa demikian karena semuanya natural tidak ada yang disembunyikan. Nah loh kok udah bahas bab munakahad, ta’aruf aja belum selesai. Kembali ke proses ta’aruf. Pertanyaan sekoper yang udah disiapin,gak masalah, tinggal diutarakan dihari-hari bersamanya, ingat hari-hari pernikahan bukan hari-hari indah, tapi hari penuh ujian namun menyenangkan, full barokah dan full ibadah. Ta’aruf yang terjaga adalah awalnya, tanyalah hal penting bukan hal yang dianggap penting, tanyalah dan tampillah apa adanya bukan adanya apa, tanyalah apa yang ingin engkau tau tapi bukan malu-maluin yah, optimalisasi waktu agar terjaga jalinan sucinya. Ta’aruf itu indah dengan bismillah, cukup beberapa detik engkau akan merasa pilihanmu telah jatuh padanya. Berikut cerita temanku tadi pada Hpku yang masuk bengkel. “Gak banyak sih yang mau ditanya, tapi kelu bibirku, cuma satu pertanyaan tapi tak terucap, wah benar-benar mendebarkan, deg deg an aku, suaranya begitu lembut, ternyata aku dan dia sama-sama pemalu, jadi deg deg an banget, pas giliranku yang berucap, dia menundukkan pandangannya”. Kapan khitbah? “khitbah dalam waktu dekat, lai nyiapin tekhnisnya gimana” Subhanallah, ikut senang, kapan walimahan? “insyaallah akhir november kalau gak awal desember” Pengen gak sih begitu? Apa semudah itu menikah? Ni part 3 ni. Wah kok saya yang nulis jadi ikut-ikutan deg deg an yah? Nah ta’arufan itu meminimalisir perpecahan, jika Allah gariskan ia menjadi jodoh maka perjalanan sedang dirakit indah, jika Allah gariskan ia bukan jodoh maka tak akan ada caci maki.bertemu karena Allah berpisahpun karena Allah. Wallahu’alam. ;’terinspirasi ta’aruf singkat seseorang, semoga full barokah dan semoga Allah satukan kalian dalam sakinah mawaddah warahmah’; -“didedikasikan untuk para perindu bidadari dan pangerannya, semoga full barokah menemukannya dan semoga sabar dalam penantian menjemput bidadari dan menantikan sang pangeran”-

Rabu, 09 Mei 2012

_Selamat Jalan Ayah_

|0 komentar
Ayah.... tak pernah aku buatkan puisi indah untukmu, tak pernah ku ucapkan aku mencintaimu dihadapanmu, tak pernah aku berlaku lembut dihadapanmu, tak pernah aku memperlakukanmu special. Ayah.... tak pernah ku berada begitu dekat denganmu, tak pernah aku bermanja padamu, tak pernah aku menangis meminta padamu, melainkan ketika kanak-kanak dulu, aku selalu hendak ikut kemana kau pergi, aku selalu ingin mainan setiap ke toko dan pasar-pasar, aku selalu memelas ingin makanan ini dan itu. Ayah.... tak pernah kau menuntutku begini dan begitu, hanya kau beri pandangan agar aku memiliki bekal hidup, sering kau mendidik dan mengajariku bersama ibu, dalam segala kondisimu, kau ajarkan padaku bahwa bukan dunia yang harus ku cari melainkan dunia dan akhirat, tak pernah kau membentakku barang sedikit, kau selalu mengingatkan dengan kata-kata santun. Ayah.... ku tau jika ku berikan puisi kau tak bisa membacanya, tak bisa melihatnya karena setiap aku ada kau selalu memintaku membacakan buku atau surat kabar. ku tak ucapkan cinta karena ku sadari bukan ucapan yang kau butuhkan melainkan sikap dan tuturku. ku tak berlaku lembut karena kau tak suka basa basi, hingga aku juga tak kasar padamu, ku perlakukan engkau seperti orang yang sangat ku sayangi. tak pernah ku perlakukan engkau special karena bagiku setiap pertemuan, setiap ujar, setiap sapaan, setiap diskusi kita adalah hal special, karena tak perlu bagiku menunggu sebuah moment untuk memperlakukanmu dengan sangat terhormat. Ayah.... dulu aku selalu berbincang denganmu, bercerita tentang kekasih kita, ya kekasih kita, dulu aku sering mengikuti langkahmu, langkahmu ayah ke rumah kekasih kita, dulu aku sering menjawab pertanyaanmu tentang jarum jam, saat alunan sahdu memanggil kita, bertemu dan mengadu pada kekasih kita, dulu engkau mengajarkan kehidupan padaku, hingga sempurna hari itu ayah, sempurna pada hari itu ayah, sungguh sempurna pengajaranmu. hari itu padi nan sejuk, aku masih bisa mendengar ujarmu, namun kemudian pipiku basah seperti dedaunan yang terkena sambaran desah hujan pagi itu, sungguh sempurna, setelah semua jalan engkau berikan, engkau pergi dengan kesempurnaan bertemu kekasih nan selalu kita bicarakan. engkau pergi dalam kenangan surah annaba', engkau pergi untuk selamanya dari hadapanku, inilah kerinduanku ayah, rindu dengan segala romantisme yang lalu, rindu dengan pertengkaran-pertengkaran kecil kita, rindu dengan perjalanan kita dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain. Ayah.... semoga engkau di tempatkan kekasihmu Allah diantara kekasih-kekasihnya, engkau seperti siap dengan kepergianmu, engkau selalu bersama-Nya sebelum kepergianmu dan sekarang, insyaallah, shoummu penghantarmu yang begitu berbeda dari tahun sebelumnya, begitu rela engkau sentiasa menahan lapar di hari-hari sunnah, begitu yakin kau terjaga untuk setiap malam-Nya, trimakasih ayah. Ayah.... semoga kita kelak dikumpulkan lagi, semoga engkau bersama ibu laksana sepasang kasih, semoga engkau bahagia disana ayah, kami belajar untuk hidupkan engkau dalam hati kamu dan hidup kami, trimakasih ayah, jangan kau risaukan perihal ibu, kami kan menjaganya. _Selamat Jalan Ayah_ for moment selasa 24 April 2012.

Rabu, 29 Februari 2012

Hartaku bukan milikku (bag 1)

|2 komentar
Sobat....
Bagaimana kabarmu hari ini? Adakah baik-baik saja? atau sedang dirundung kepiluan karena patah jantung eh patah hati? atau sedang berbahagia merayakan cinta bermahkotakan romantisme mengharu biru? atau sedang berbelasungkawa dan bisa jadi dalam keadaan sangat bahagia baru mendapatkan anggota keluarga baru dengan lahirnya anak-anak yang menjadi penghibur hati? Hm....apapun kondisinya yang penting tetap dalam keadaan bekecukupan? nah loh, kok sedih dikatakan berkecukupan yah, kalau lahirnya seorang anak atau sedang merayakan cinta bisalah dikatakan berkecukupan.

Begini sobat,
Sebelum kita berbicara panjang lebar dan bertele-tele tapi penuh makna insyaallah ya, teriakkan terlebih dahulu AKU CINTA KEHIDUPAN YANG AKU MILIKI DENGAN SEGALA KURANG DAN LEBIHNYA, DALAM SUKA MAUPUN DUKA (ucapkan sebanyak 3x dengan semangat). Kayak sumpah pernikahan saja ya...? Ups saya bukan sedang menggurui dan memaksa anda melakukannya, hanya sedikit memberikan sugesti agar kita lebih menghargai kehidupan yang di anugerahkan kepada kita. Ya anugerah.Saya jadi teringat akan seorang kru 'hitam putih', ada seorang pianis dengan nama 'Anugerah prahara', terpulang bagaimana nama itu muncul tapi boleh dikatakan ketika anugerah disandingkan dengan prahara maka disana ada kebahagiaan dan untuk mencapainya dengan susah payah dan inilah inplementasi dari prahara tersebut sehingga memberikan output berupa anugerah.Nikmati hidup ini dengan segala praharanya, kepahitan itu yang akan menyampaikan kita pada rasa bahagia dan itupun bisa kita peroleh jika hati kita tidak dibaluti ketamakan.

Sekarang sampailah saya pada tujuan awal yang ingin saya ceritakan pada kita semua, untuk menelusuri kepongahan dan keegoisan yang ada dalam diri kita. Agar kita sedikit tau maknanya kehidupan dan agar hal yang sedikit itu sampai pada gundukan kata dan perasaan syukur. Prahara kehidupan memang sangat memilukan dan menyakiti jiwa raga kita, namun kendati demikian kita diciptakan bukan untuk terluka tapi untuk mengambil manfaat dari segala prahara. Suatu ketika ada seorang anak muda yang pulang dari tempat kerjanya dengan jalan kaki, bukan karena tidak punya ongkos untuk naik angkot tapi sedang ingin menikmati 'bagaimana sih rasanya jalan kaki itu?' karena selama ini hanya kesana kemari dengan kendaraan pribadi atau angkutan kota, tak bertemu dengan secuil kisah kehidupan orang-orang yang meminta-minta seorang ibu tua membawa anaknya yang sepertinya sudah seperempat abad usianya dengan penampilan kumuh, anaknya tidak bisa melihat. Dari kejauhan anak muda itu hanya melihat dua orang yang berjalan, tapi ternyata dari detik ke detik mendekat timbul rasa yang lain dalam hatinya.Ibu itu dengan keadaan sangat papah, anak muda itu menghentikan mereka walau hanya memberikan selembar uang dari saku kiri tasnya, ia masih terhenyak ketika bagian dari gaji terakhirnya (karena hari itu dia di berhentikan dari pekerjaannya), tak ragu ia berikan dengan kata terdalam dari hatinya 'Allah punya cara tersendiri untuk memberikan yang terbaik bagi hambanya, ketika hari ini anak muda itu terpukul dan terpental akan bagaimanakah caranya lagi memenuhi kebutuhan hidupnya, bagaimana meneruskan hidupnya, tapi ia teringat lagi dengan kata 'biarlah yang sedikit itu akan menjadikan banyak'. Ketika ibu dan anak itu pergi, kembali anak muda ini tersentak, kenapa hanya sedikit yang ia berikan, kenapa? ketika melihat ke belakang, anak muda ini tidak melihat ibu dan anak itu lagi, timbul duka dalam hatinya namun apakah daya seperti kilat mereka pergi, kesempatan berbagi sudahpun hilang dan tak bisa direvisi, sirna sudah kesempatan itu. 

Abang Alfath Bersenjata.com
Prahara kehidupan itulah yang membuat hidup semakin berarti, kebahagiaan itu bukan ketika kita terbelenggu dengan segala kekurangan dan derita diri, bukanlah sebuah hal yang mudah untuk hidup seperti ibu tua tadi, dia harus membesarkan hidupnya dengan segala kekurangan yang dia miliki. Pemuda itu tersentak bahwa semua yang dia miliki, ketika ia diberhentikan dari pekerjaannya tidaklah lebih buruk dari apa yang dimiliki ibu tua dan anaknya tadi. Ternyata, menyempatkan diri untuk berjalan memberikan begitu banyak kesempatan untuk belajar dan mengerti akan kehidupan, karena kehidupan itu tidak dinilai dengan apa fasilitas yang kita gunakan, tapi bagaimana kita memaknai kehidupan itu sendiri, ia menjadi indah ketika kita menikmatinya, ia menjadi tak berharga ketika kita memenuhi relung hati dengan ketamakan dan ketidak puasan atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada kita. Persiapkan senjata berupa keimanan, persiapkan diri dengan kesabaran, agar prahara tunduk pada senjata kesabaran, agar kita tidak mati dengan gelimangan kerakusan.

Setiap apa yang diberikan kepada kita ada hak orang lain, hak itu bisa berupa kesejahteraan bisa berupa pelajaran, ketika kita terluka ingatlah sungguh masih ada yang terluka dibelahan dunia yang lain, mungkin kita butuh waktu untuk berbenah namun bukan berarti kita harus menghukum keadaan dengan segelintir prahara yang kita hadapi, karena prahara silih datang dan berganti dengan bening kebahagiaan ketika kita tidak hanya memikirkan diri sendiri.

to be continue....