Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2023

Difusi, Proses dan Faktor yang Mempengaruhinya

|0 komentar


A. Pengertian Difusi

Dilansir Britannica Encyclopedia, difusi adalah proses yang dihasilkan dari gerakan molekul dimana alirannya berpindah dari daerah berkonsentrasi tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah.

Dalam definisi tersebut, perbedaan konsentrasi pada dua larutan dikenal juga dengan sebutan gradien konsentrasi. Meski tidak ada perbedaan konsentrasi, perpindahan molekul tetap dapat terjadi untuk mencapai kesetimbangan.

Proses difusi juga berlaku dalam tubuh manusia. Menurut Modul Biologi Kelas XI yang disusun oleh Saifullah (2020), difusi adalah proses perpindahan partikel suatu zat dari larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan dengan konsentrasi rendah untuk mencapai keseimbangan.

Contoh difusi dalam tubuh manusia yaitu ketika kita menarik napas maka alveolus mengembang dan oksigen masuk ke paru-paru. Lalu, ketika menghembuskan napas, alveolus mengempis dan karbon dioksida keluar dari tubuh. Nah, proses ini terjadi disebabkan molekul bergerak dari konsentrasi tinggi ke rendah.

B. Proses Difusi
Proses difusi dapat terjadi di zat padat, zat cair, atau zat gas. Dalam hal ini, prosesnya tidak memerlukan energi karena itulah proses difusi disebut juga sebagai sistem transpor pasif.

Proses difusi adalah kondisi dimana terjadinya pergerakan partikel zat dengan gerakan acak yang berdifusi dari bagian berkonsentrasi tinggi menuju ke bagian yang lebih rendah melalui membran sel.
Sebuah partikel dapat melewati membran tersebut jika ukuran partikel sangat kecil dan dapat larut dalam air maupun lemak.

C. Faktor yang Mempengaruhi Difusi
Berikut ini merupakan sejumlah faktor yang mempengaruhi proses difusi adalah sebagai berikut:

1. Ukuran molekul yang meresap
Jika molekul berukuran besar, maka proses difusi akan lebih lambat untuk melewati membran daripada molekul yang ukurannya lebih kecil.

2. Suhu
Gerakan molekul akan lebih cepat ketika terjadi kenaikan suhu. Hal ini tentunya berdampak pada laju difusi yang juga semakin cepat.

3. Konsentrasi zat
Laju difusi juga didasarkan pada besar gradien konsentrasi yang ada pada dua zat.

4. Wujud materi
Proses difusi pada zat padat biasanya akan lebih lambat dibandingkan dengan zat cair dan zat gas. Contohnya proses difusi O2 pada hewan bersel satu. Difusi dapat terjadi karena konsentrasi O2 di udara lebih tinggi daripada konsentrasi O2 di dalam sel.

Baca artikel detikedu, "Difusi: Pengertian, Proses, Jenis, dan Contohnya" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6043540/difusi-pengertian-proses-jenis-dan-contohnya.

Senin, 28 November 2022

REAKSI KIMIA

|0 komentar

foto by tirto, internet.
Reaksi kimia bisa terjadi di mana saja bahkan di sekeliling kita dan kapan saja. Tidak hanya di laboratorium saja, sebuah materi yang berinteraksi dalam membentuk produk baru disebut reaksi kimia. seperti saat sedang memasak atau membersihkan halaman rumah juga termasuk aktivitas yang bisa menimbulkan reaksi kimia.

Reaksi kimia adalah bagian integral dari teknologi, budaya dan kehidupan manusia. Melebur besi, membuat gelas, menyeduh teh serta membuat keju adalah beberapa contoh kegiatan yang menggabungkan reaksi kimia yang telah digunakan selama ribuan tahun. Reaksi kimia sangat banyak di bumi, atmosfer dan lautan.

Reaksi kimia atau perubahan kimia ada di sekitar kita, dari metabolisme makanan dalam tubuh hingga bagaimana cahaya matahari bisa diserap oleh tubuh manusia. Ada dua jenis perubahan yaitu perubahan kimia dan perubahan fisik.

Contohnya adalah lilin yang menyala. Seiring berjalannya waktu, lilin yang utuh akan berubah menjadi parafin. Pembakaran dari sebuah lilin merupakan reaksi kimia atau perubahan kimiawi sedangkan perubahan lilin menjadi sebuah parafin disebut dengan perubahan fisik.

Reaksi kimia harus dibedakan dari perubahan fisik. perubahan fisik meliputi perubahan keadaan seperti es batu mencair menjadi air, air menguap menjadi uap. Jika terjadi perubahan fisik, maka sifat fisik dari suatu zat akan berubah tetapi identitas kimianya akan tetap sama.

Tidak peduli bagaimana keadaan fisiknya, air (H2O) adalah senyawa yang sama. Namun, jika air sebagai es, cairan atau uap bertemu dengan natrium (Na) maka akan berubah menjadi (NaOH). Dengan ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan kimia.

Reaksi kimia adalah suatu proses di mana satu atau lebih zat, diubah menjadi satu atau zat yang berbeda dan menghasilkan produk yang baru. Zat adalah unsur atau senyawa kimia. Reaksi kimia mengatur ulang atom reaktan untuk membuat zat yang berbeda.

Reaksi kimia umumnya terjadi dengan perubahan fisik, produksi panas, perubahan warna dll. Laju dari perubahan reaksi bergantung dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tekanan dan suhu.

Karena banyak sekali reaksi kimia yang terjadi di sekitar kita, nomenklatur (penamaan dalam bidang ilmu) dikembangkan untuk menyederhanakan cara manusia untuk mengekspresikan reaksi kimia dalam bentuk persamaan kimia. Persamaan kimia adalah pernyataan matematis yang melambangkan pembentukan produk dari reaktan sekaligus menyatakan kondisi tertentu yang menjadi alasan terjadinya reaksi.

Reaktan berada di sisi kiri, sedangkan produk yang terbentuk berada di sisi kanan dan dihubungkan oleh anak panah. Kamu bisa lihat contohnya di bawah ini:

A + B → C + D

Dari persamaan di atas dapat dilihat bahwa A dan B adalah sebuah reaktan yang bereaksi dan membentuk produk C dan D. Dalam persamaan kimia yang sebenarnya, reaktan dilambangkan dengan rumus kimianya. Berdasarkan kekekalan massa, persamaan kimia harus seimbang, yaitu jumlah atom di kedua sisi harus sama. Kamu bisa lihat contohnya di bawah ini.

CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2O

Dari persamaan kimia di atas dapat dilihat bahwa jumlah atom di sisi sebelah kiri memiliki jumlah yang sama dengan jumlah atom di sebelah kanan.

Rabu, 21 Oktober 2020

Kimia dan Tatanan Kehidupan

|0 komentar

 Bicara kimia sering disandingkan dengan ketidakbaikan. Jangan makan ini, ada zat kimia nya. Jangan jajan itu, ada zat kimia nya. Jangan pake obat ini, itu obat kimia.

Wah, kimia itu menakutkan bukan? Bahkan suatu ketika, ada seorang ibu bertanya "anak saya mau ambil jurusan kimia, bahaya ga, kata orang ntar kehirup zat kimia, bisa sakit".

Mari kita kenal kimia lebih dekat, gimana caranya kita men-judge satu bidang ilmu kalau kita tidak pernah mempelajarinya. Kimia bukan hal yang menakutkan, semua yang ada di bumi, memiliki manfaatnya, hanya saja, kita menggunakannya dengan prosedur apa enggak atau kita menggunakannya berlebihan atau kurang? Makan nasi juga kalo kurang itu perut bisa sakit kelaparan, kalo kelebihan juga perut bisa sakit, mules-mules.

Alkohol itu zat kimia, dipakai untuk bersihin luka, jadi baik. Dipakai untuk minum bisa mabuk.

Jadi semua itu harus digunakan dan di fungsikan sesuai kegunaan dan kadarnya baru lah akan menjadi berguna. Bila tidak akan kacau urusannya.

Kembali pada kimia. Rambut, ada zat kimia. Air ludah kita yang tertelan bersama makanan kita, ada zat kimia. Darah kita yang terikat hemoglobin, juga zat kimia.

Jadi mulailah untuk tidak skeptis terhadap zat kimia, karena mulai dari tubuh kita dan barang-barang disekitar kita, semuanya mengandung zat kimia. Bukan kimianya yang salah tapi user (pengguna) lah yang harus cermat dalam memilah memilih dan menggunakan bahan-bahan kimia. Kimia dan kehidupan itu adalah kesatuan yang tak terpisahkan.

Kamis, 30 Januari 2020

Karbon aktif

|0 komentar
Gambar Karbon Aktif
Karbon aktif merupakan senyawa karbon, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan karbon aktif berkisar antara 300-3500 m2/gram dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan karbon aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Karbon aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan.
Karbon aktif berwarna hitam, tidak berbau, tidak berasa, dan mempunyai daya serap yang jauh lebih besar dibandingakan dengan karbon yang belum menjalani proses aktivasi, serta mempunyai permukaan yang luas, yaitu antara 300-2000 m2/gram. Luas permukaan yang luas disebabkan karbon mempunyai permukaan dalam (internal surface) yang berongga, sehingga mempunyai kemampuan menyerap gas dan uap atau zat yang berada didalam suatu larutan. Sifat dari karbon aktif yang dihasilkan tergantung dari bahan yang digunakan, misalnya, tempurung kelapa menghasilkan arang yang lunak dan cocok untuk menjernihkan air. 
Karbon aktif dibagi atas 2 tipe, yaitu karbon aktif sebagai pemucat dan sebagai penyerap uap. Karbon aktif sebagai pemucat, biasanya berbentuk powder yang sangat halus, diameter pori mencapai 1000A0, digunakan dalam fase cair, berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan warna dan bau yang tidak diharapkan, membebaskan pelarut dari zat-zat pengganggu dan kegunaan lain yaitu pada industri kimia dan industri baru. Diperoleh dari serbuk-serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang mempunyai densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah. Karbon aktif sebagai penyerap uap, biasanya berbentuk granular atau pellet yang sangat keras diameter pori berkisar antara 10-200 A, tipe pori lebih halus, digunakan dalam rase gas, berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut, katalis, pemisahan dan pemurnian gas. Diperoleh dari tempurung kelapa, tulang, batu bata atau bahan baku yang mempunyai bahan baku yang mempunyai struktur keras.
Menurut Standard Industri Indonesia (SlI No. 0258-79) persyaratan arang aktif adalah sebagai berikut :
Jenis Uji
Satuan
Persyaratan
1. Bagian yang hilang pada pemanasan 950°C
%
Maksimum 15
2. Air
%
Maksimum 10
3. Abu
%
Maksimum 2,5
4. Bagian yang tidak mengarang
%
Tidak ternyata
5. Daya serap terhadap larutan I2
%
Maksimum 20








Karbon aktif menurut bentuknya dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bubuk dan granular. Karbon bentuk bubuk digunakan untuk adsorbsi dalam larutan. Misalnya untuk menghilangkan warna (declorisasi), sedangkan karbon bentuk granular digunakan untuk absorbsi gas dan uap, dikenal pula sebagai karbon pengadsorbsi gas. Karbon bentuk granular kadang-kadang juga digunakan didalam media larutan khususnya untuk deklrorinasi air dan untuk penghilang warna dalam larutan serta pemisahan komponen komponen dalam suatu sistem yang mengalir.
Sifat karbon aktif yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu :
1. Sifat Adsorben
Karbon aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sebagian besar terdiri dari unsur karbon bebas dan masing- masing berikatan secara kovalen. Dengan demikian, permukaan arang aktif bersifat non polar. Selain komposisi dan polaritas, struktur pori juga merupakan faktor yang penting diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori arang aktif, mengakibatkan luas permukaan semakin besar. Dengan demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorpsi, dianjurkan agar menggunakan karbon aktif yang telah dihaluskan. Jumlah atau dosis karbon aktif yang digunakan, juga diperhatikan.
2. Sifat Serapan
Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh karbon aktif, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing- masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari sturktur yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.
           3. Temperatur
Dalam pemakaian karbon aktif dianjurkan untuk menyelidiki. temperatur pada saat berlangsungnya proses. Karena tidak ada peraturan umum yang biasanya diberikan mengenai temperatur yang digunakan dalam adsorpsi. Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna mau dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperature yang lebih kecil.
            4. pH (Derajat Keasaman)
Untuk asam-asam organik adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam minereal. Hal ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam
organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.
5. Waktu Kontak
Bila karbon aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah yang digunakan. Waktu yang dibutuhkan ditentukan oleh dosis karbon aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu kontak. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel karbon aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama.
Struktur pori adalah faktor utama dalam proses adsorpsi. Distribusi ukuran pori menentukan distribusi molekul yang masuk dalam partikel karbon untuk diadsorp. Molekul yang berukuran besar dapat menutup jalan masuk ke dalam micropore sehingga membuat area permukaan yang tersedia untuk mengadsorp menjadi sia-sia. Karena bentuk molekul yang tidak beraturan dan pergerakan molekul yang konstan, pada umumnya molekul yang lebih dapat menembus kapiler yang ukurannya lebih kecil juga.
Penggunaan bubuk karbon aktif mempunyai kelebihan sebagai berikut :
  • Sangat ekonomis karena ukuran butir yang kecil dan luas permukaan kontak persatuan berat sangat besar. 
  • Kontak menjadi sangat baik dengan mengadakan pengadukan cepat dan merata. 
  • Tidak memerlukan tambahan alat lagi karena karbon akan mengendap bersama Lumpur yang terbentuk. 
  • Kemungkinan tumbuhnya mikroorganisme sangat kecil.
Sifat adsorbsi karbon aktif tidak hanya ditentukan oleh struktur porinya, tetapi ditentukan juga oleh komposisi kimianya. Misalnya ketidakteraturan struktur mikrokristal elementer, karena adanya lapisan karbon yang terbakar tidak sempurna (terbakar sebagian), akan mengubah susunan awal elektron dalam rangka karbon. Akibatnya akan terjadi elektron tak berpasangan, keadaan ini akan mempengaruhi sifat adsorbsi karbon aktif, terutama senyawa polar atau yang dapat terpolarisasi. Jenis ketidakteraturan yang lain adalah adanya hetero atom didalam struktur karbon.

Sumber

Minggu, 10 Mei 2015

BERAT JENIS ZAT CAIR DAN BERAT JENIS ZAT PADAT

|0 komentar


PERCOBAAN III
BERAT JENIS ZAT CAIR DAN BERAT JENIS ZAT PADAT

I.         TUJUAN PRAKTIKUM
1.      Mahasiswa dapat menentukan berat jenis zat cair dengan piknometer
2.      Mahasiswa menentukan berat jenis zat padat dengan piknometer
3.      Mahasiswa mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi berat jenis zat.

II.      TANGGAL PRAKTIKUM
Praktikum dilaksanakan tanggal

III.   DASAR TEORI
Berat jenis didefinisikan sebagai massa suatu bahan per satuan volume bahan tersebut. Bentuk persamaannya adalah :
            Berat jenis   atau 𝝆   ………………… (1)
Satuan dari berat jenis adalah kg/dm3, g/m3 atau g/mL. berat jenis mempunyai harga konstan pada suatu temperatur tertentu dan tidak tidak tergantung pada bahan cuplikan atau sampel. Dikenal beberapa alat yang dapat digunakan untuk menentukan berat jenis yaitu areometer, piknometer dan neraca whestpal.
       Penentuan Berat Jenis Zat Cair dengan Areometer
     Penentuan berat jenis zat cair dengan areometer berdasarkan prinsip hukum Archimedes “setiap benda yang dicelupkan ke dalam suatu cairan akan mengalami gaya angkut yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan”.
     Areometer berbentuk sebuah silinder yang berlubang, agar areometer dapat tercelup dengan posisi yang tepat (skala tercelup dalam cairan), maka areometer diisikan dengan butiran-butiran Pb. Skala pada areometer menunjukkan berat jenis cairan, semakin kecil berat jenis cairan, aerometer akan tercelup semakin dalam. Oleh karena itu skala aerometer menunjukkan angka yang semakin besar dari atas ke bawah.
       Penentuan Berat Jenis dengan Piknometer
     Berat jenis suatu zat dapat dihitung dengan mengukur secara langsung berat zat cair dalam piknometer (menimbang) dan volume zat ditentukan berdasarkan volume piknometer.
Berat jenis zat cair  ……………….. (2)
Dimana :
Berat zat cair dalam piknometer = (berat piknometer + berat zat cair – piknometer kosong)
Volume zat cair dalam piknometer = volume piknometer.
Volume piknometer ditentukan dengan menggunakan zat cair yang lain yang telah diketahui berat jenisnya. Volume zat padat yang bentuknya tidak beraturan dapat ditentukan dengan
 (Lestari,2014)

Untuk menentukan densitas percobaan ,maka diperlukan data densitar referensi dari zat tersebut, hal ini dapat diperoleh dari informasi data yang terdapat dalam tabel 3.
Tabel.3. Densitas Fluida (Yaws, 1999)
Nama Zat
A
B
n
Tc
Aquadest
Metanol
Parafin
0,34710
0,27197
0,22827
0,274
0,27192
0,27240
0,28571
0,29030
0,2863
647,13
588,15
425,18
IV.   ALAT DAN BAHAN
4.1. Alat yang digunakan :
a.       Piknometer 10 mL
b.      Beaker glass 250 mL
c.       Pipet tetes
d.      Pipet ukur
e.       Batang pengaduk
f.       Spatula
g.      Timbangan analitis

4.2. Bahan yang digunakan :
a.   Aquadest
b.   Metanol
c.   Solar
d.   Parafin

V.      GAMBAR PERALATAN
Gambar 3. Piknometer

VI.   PROSEDUR KERJA
6.1. Penentuan Volume Piknometer
a.  Ditimbang piknometer kosong bersih dan kering “a” gram
b. Diisi piknometer dengan aquadest pada suhu 270C yang telah diketahui berat jenisnya
c. Ditimbang piknometer yang berisi aquadest tepat pada suhu 290C
“b” gram
d. Dihitung berat aquadest pada suhu 290C (b-a) gram
Volume aquadest = Volume piknometer

6.2. Penentuan Berat Jenis Zat Cair dengan Piknometer
a. Ditimbang piknometer kosong, bersih dan kering yang telah ditentukan volumenya “c” gram
b. Diisi piknometer dengan zat cair (aquadest) pada suhu  270C
c. Ditimbang piknometer yang berisi zat cair tepat pada suhu  290C “d” gram
Berat zat cair = (d-c) gram
Berat jenis zat cair pada suhu 290C =
d.   Dilakukan langkah yang sama untuk zat cair berupa metanol dan solar.



6.3. Penentuan Berat Jenis Zat Padat dengan Piknometer
a. Ditimbang piknometer kosong, kering dan bersih yang telah diketahui   volumenya “e” gram
b.  Diisi piknometer dengan zat padat sampai separuh dari piknometer
c.  Ditimbang piknometer yang berisi zat padat “f” gram
d. Ditambahkan ke dalam piknometer yang berisi zat padat dengan zat cair pada suhu  270C yang telah diketahui berat jenisnya (tidak boleh terdapat gelembung udara dalam piknometer)
e. Ditimbang piknometer berisi zat padat dan zat cair tepat pada suhu  290C   “g” gram
Berat zat padat = (f-e) gram

Berat jenis zat padat =

VII.DATA PENGAMATAN
Tabel 4. Berat Piknometer Kosong dan Berisi
Zat
Berat Piknometer (g)
Kosong
Berisi
Aquadest
Metanol
Solar
Parafin
12,24
12,24
12,24
12,24
21,85
20,83
20,05
13,93

Tabel 5. Densitas Zat Cair dan Zat Padat
No
Zat
T­­­1(0C)
T­­­1(0C)
𝝆percobaan (g/mL)
𝝆referensi (g/mL)
%Ralat
1
2
3
4
Aquadest
Metanol
Solar
Parafin
27
27
27
27
29
29
29
29
1,02393
0,91525
0,83214
0,466425
1,02393
0,79539
0,8
0,5683
0
15
4
17,9

VIII.       PERHITUNGAN
1.      Aquadest
Berat aquadest = berat pikno berisi – berat pikno kosong
                         = 21,85 g – 12,24 g
                         = 9,61 g
Berat jenis referensi aquadest pada suhu 290C
 
    =
    =
    = 0,34710 . 2,94995
    = 1,02393 g/mL
Volume aquadest = Volume piknometer =
                                                                 =
2.    Metanol
Berat pikno kosong = 12,24 g
Berat pikno berisi    = 20,83 g
Zat metanol = 20,83 g – 12,24 g = 8,59 g
Kerapatan (  aquadest pada suhu 290C = 1,02393 g/mL
 =
                 
                  = 0,91525 g/mL
 
     
      = 0,89386

3.     Solar
Berat pikno kosong = 12,24 g
Berat pikno berisi    = 20,05 g
Zat metanol = 20,05 g – 12,24 g = 7,81 g
Kerapatan (  aquadest pada suhu 290C = 1,02393 g/mL

 =
                 
                  = 0,83214 g/mL
 
      = 0,81269

4.     Parafin
Berat pikno kosong = 12,24 g
Berat pikno berisi    = 13,93 g
Berat pikno + zat parafin + aquadest = 19,83 g
Zat parafin = 13,93 g – 12,24 g = 1,69 g
Berat aquadest = 19,83 g – 13,93 g = 5,9 g
Volume zat cair (aquadest) =
                                            = 5,7621 mL
Volume zat padat = volume pikno – volume zat cair
                             = 9,38541 mL – 5,7621 mL
                             = 3,62329 mL
 =
                 
                  = 0,466425 g/mL

Berat jenis referensi metanol suhu 290C
 
    =
    =
    = 0,34710 . 2,92455
    = 0,79539 g/mL

Berat jenis referensi solar suhu 290C adalah 0,8 g/mL
Berat jenis referensi parafin suhu 290C
 
    =
    =
    = 0,34710 . 2,48966
    = 0,5683 g/mL

%Ralat metanol
                         
                          = 0,15 x 100%
                          = 15%
%Ralat solar
                         
                          = 0,04 x 100%
                          = 4%
%Ralat parafin
                         
                          = 0,179 x 100%
                          = 17,9%


IX.   TUGAS
Mengapa pada penentuan berat jenis zat padat dengan menggunakan piknometer harus ditambahkan zat cair yang telah diketahui berat jenisnya?
-          Ditambahkan air/zat cair yang telah diketahui berat jenisnya karena volume zat padat tetap, diisi zat cair supaya memenuhi ruang kosong dalam piknometer dan volume dapat ditentukan.

X.      PEMBAHASAN
Untuk melakukan percobaab berat jenis, piknometer harus dalam keadaan bersih dan kering. Apabila piknometer tidak bersih dan kering, maka akan berpengaruh pada zat yang akn diuji dan akan mempengaruhi nilai atau berat yang akan ditimbang.
Piknometer dapat dibersihkan dengan aquadest, sedangkan untuk pengeringan yang cepat bisa menggunakan alkohol. Alkohol dapat digunakan karena memiliki sifat-sifat yang baik seperti mudah mengalir, mudah menguap dan bersifat antiseptik. Jadi sisa-sisa yang tidak diinginkan dapat hilang dengan baik, baik yang ada di luar maupun yang ada di dalam piknometer itu sendiri. Namun karena keterbatasan zat, maka pembersihan dan pengeringan piknometer hanya dengan aquadest dan tisu.
Tujuan pengeringan piknometer adalah untuk mengembalikan piknometer pada bobot sesungguhnya. Piknometer yang bersih dan kering dapat digunakan dan diisi dengan sampel. Pengisian dilakukan melalui bagian dalam dinding piknometer guna menghindari terjadinya gelembung udara.
Pada percobaan diperoleh 𝝆 aquadest adalah 1,02393 g/mL ; metanol 0,91525 g/mL ; solar 0,83214 g/mL ; parafin 0,466425 g/mL. Sedangkan % ralat pada aquadest 0%, metanol 15%, solar 4% dan parafin 17,9%. Kondisi ralat yang besar pada metanol dan parafin dapat disebabkan kurangnya ketelitian dalam menimbang, suhu saat menimbang yang tidak sama dengan suhu zat yang diukur sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nilai 𝝆. Hal ini terjadi karena kondisi timbangan analitis yang tidak standar (tidak memiliki tutupan kaca).

XI.   KESIMPULAN
1.      Berat jenis zat cair dapat ditentukan menggunakan piknometer. Berat jenis aquadest 1,02393 g/mL ; metanolm0,91525 g/mL dan solar 0,83214 g/mL
2.      Berat jenis zat padat tergantung pada zat cair, dalam penentuan berat jenis zat padat parafin ditambahkan aquadest, berat jenis parafin adalah 0,466425 g/mL

3.      Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berat jenis :
a.  Kebersihan atau keringnya alat
b.  Ada atau tidaknya gelembung udara
c.  Temperatur, dimana pada suhu tinggi senyawa menguap
d. Massa zat, bila massa zat besar maka berat jenis juga besar
e.  Volume zat, dimana volume berkaitan dengan massa dan berat jenis

XII.DAFTAR PUSTAKA
Annonim, 2012. Kerapatan dan Berat Jenis. http://kenan.blogspot.com/2012/10.
html. Akses tanggal 16 November 2014.
Lestari, P.S., 2014. Modul Praktikum Instrumen dan Teknik Pengukuran, Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang.
Yaws, C., 1999 , Chemical Properties Handbook, McGraw Hill, New York.