Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2020

Nasib Bangsa Dalam Lima Lembar Kertas

|0 komentar

Kondisi perpolitikan Indonesia semakin hari semakin memanas. Bikin greget mendengarnya. Buat mulut ingin segera berargumen. Geram, itulah kata yang pantas melihat mereka dengan ciri khas masing-masing menuangkan narasi politiknya.

Mulai dari cara-cara santun sampai cara yang kurang elok dilakukan dilakukan insan perpolitikan. Namun hal ini biasa selagi tidak melanggar aturan pemilihan umum (Pemilu).

Tahun 2019 perhelatan politik digelar di seantora negeri. Berbeda dengan pemilihan sebelumnya, pada tahun ini pemilihan Legislatif (DPRD Kabupaten/kota, DPRD Provinsi, DPR RI dan DPD) dan Eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden) dilakukan bersamaan. Ini merupakan kebijakan baik salah satunya dalam menghemat anggaran.

Makin mendekati pemilu, persaingan semakin sengit. Para elit politik membawa narasi masing-masing dan melempar isu yang makin menarik. Caci maki kampret cebong, masih akrab saja terdengar ditelinga, sama seperti 2014 lalu. Entah sampai kapan. Apakah akan usai pada pilpres 17 April 2019 atau berlanjut lima tahun kedepan.

Rasanya sudah jenuh dengan kondisi bangsa yang saling menyalahkan dan semua merasa benar dengan persepsinya masing-masing. Politik hari ini untuk pemilihan satu paket presiden dan wakil presiden seperti mengulang peristiwa 2014 lalu. Dengan kontestan calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo. Ada yang berkata ga peduli siapa wakilnya yang penting presidennya. Apakah pilihan itu kepanatikan atau memang visi misi menarik yang ditawarkan.

Setiap kali mekanisme debat calon presiden-wakil presiden selesai. Sosial media dibanjiri dengan pernyataan netizen yang berargumen sesuai kapasitas mereka masing-masing. Klarifikasi dari kedua kubu terus bergulir. Tidak ada yang merasa salah, semua merasa benar dengan pernyataannya. Netizen adu argumen seakan mereka menjadi miniatur debat calon presiden wakil presiden.

Banyak sekali netizen berkomentar sinis dan dramatis demi membela pasangan calon presiden-wakil presidennya. Namun demikian, tidak kurang pula yang berargumen dan bersikap berimbang tanpa menyudutkan dan mengagung-agungkan salah satu kandidat. Begitulah wajah perpolitikan Indonesia saat ini.

Bangsa Indonesia menjadikan demokrasi sebagai sistem pemerintahan. Dalam demokrasi kebebasan berpendapat dimiliki oleh seluruh warga negara. Tidak terkecuali. Namun perlu diingat kebebasan berpendapat adalah kebebasan yang dibatasi oleh norma-norma kehidupan dan harus beradab.

Menurut teori klasik Aristoteles, Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pendapat ini seharusnya meluruskan nalar, bahwa setiap bangsa Indonesia yang ingin berkuasa di negeri ini menginginkan kebaikan bersama.

Mereka yang menjadi kontestan pesta demokrasi tahun ini tentunya orang terpilih dan terbaik. Hanya paradigma yang berbeda-beda. Mereka telah melewati mekanisme yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan memenuhi syarat sebagai calon pemimpin dan wakil rakyat.

Setiap kandidat memiliki visi misinya. Harapan terbesar bangsa agar siapapun mereka yang menjadi pemenang dalam perhelatan demokrasi kali ini. Melakukan perbaikan-perbaikan dalam meningkatkan taraf hidup rakyat. Memberikan rasa aman dan nyaman untuk beraktivitas sebagai warga yang merdeka.

Debat sana sini saling mengunggulkan kandidat boleh saja dilakukan tim pemenangan masing-masing calon. Survey dilakukan dan menangnya calon pilihan membuat sedikit lega. Namun tetap saja pertarungan sebenarnya saat kertas suara dicoblos para pemilih.

Menang di dunia maya hanya menjadi semangat dan meningkatkan strategi pemenangan calon. Karena tidak semua rakyat Indonesia ikut andil dalam meramaikan cerita politik dalam dunia maya. Mereka lebih cenderung menjadi silent reader dan bahkan masa bodoh.

Masyarakat masa bodoh karena tidak secara langsung terjun dalam panggung politik dan tidak teredukasi tentang politik. Sehingga mereka hanya tau bagaimana caranya agar mereka bisa menyantap makanan dari hari ke hari dan bisa melakukan aktivitas tanpa diganggu dan mengganggu siapapun.

Apalagi dunia perpolitikan Indonesia saat ini yang kelihatan absurb. Semua kelihatan tidak pasti bisa berubah dalam hitungan hari. Elit politik yang hari ini getol memenangkan satu kandidat dan esok pula gigih menjatuhkan kandidat tersebut. Tidak perlu jedah yang lama untuk melihat kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan. Kepentingan politik mempertaruhkan nasib bangsa kedepan.

Nasib bangsa telah diperjuangkan para pahlawan dari penjajahan. Mereka rela bersimbah darah, meninggalkan keluarga dan mati di medan perang. Mereka membayar kemerdekaan dengan nyawa. Bagaimana mungkin sebagai penikmat kemerdekaan, membiarkan negeri ini dihancurkan tirani.

Nasib bangsa ini berada pada rakyat Indonesia. Kontestan perpolitikan telah diberikan hak kampanye. Alat Peraga Kampanye (APK) mereka siapkan. Banyak cara mereka lakukan membuat spanduk dan menancapkannya di pinggir jalanan yang strategis.

Kemudian kartu nama, pamplet, player dan yang tidak asing lagi kalender. APK ini merupakan lembaran kertas. Tidak cukup sampai disitu, amonisi pesta demokrasi juga merupakan kertas suara yang merupakan secarik kertas. Pada pesta demokrasi kali ini, setiap rakyat diberikan lima kertas suara. DPDR Kab/Kota warna hijau, DPRD Provinsi warna biru, DPR RI warna kuning, DPD RI warna merah dan Presiden Wakil Presiden warna abu-abu.

Nasib bangsa ditentukan oleh lima lembar kertas dengan kekuatan siapa yang paing banyak dicoblos. Kertas telah menjadi bagian penting dari perjuangan bangsa dalam memilik kontestan terbaik menurut rakyat. Tidak hanya itu, kepiawaian para desainer dan penyedia jasa pembuat APK sudah barang tentu mengisi pundi-pundi rupiah mereka melalui moment kampanye untuk Indonesia berdaulat.

Sebagai warga negara yang baik. Menjadikan pemilu sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki negeri. Dan sudah menjadi tanggungjawab kandidat yang terpilih untuk terus berupaya menghadirkan gagasan-gagasan yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Rakyat yang baik menghormati keputusan demokrasi dan bersinergi dengan pemerintah terpilih. Pemimpin dan wakil rakyat yang baik adalah mereka yang terus menyuarakan dan berkebijakan untuk kepentingan dan perbaikan nasib bangsa.

 



Rabu, 09 April 2014

Penyesalan Selalu Diakhir

|0 komentar
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian.....

Pemilu sudah berlalu kawan
jangan menyesal dengan apa yang sudah terjadi
kalah menang
itu biasa
kalah menang itu
biasa
jangan mengeluh
terus bekerja
dengan sebaik-baik perkerjaan
terus mencintai dengan sebaik-baik cinta
jangang berhenti melayani
dengan sebaik-baik pelayanan.

Penyesalan selalu diakhir
maka jangan pernah menyesal
karena yang kita rasa
tidak hanya akhir
tapi awal yang lebih indah
Indahkan indonesia
Indahkan
Indonesia
dengan kerja terbaik
ayo melesat seperti garuda


Selasa, 08 April 2014

Kriteria Pemimpin yang Baik dalam Islam

|0 komentar

Bagaimana kriteria pemimpin yang baik menurut islam?. Sebentar lagi kan pemilu, biar kita gak salah pilih. Trim’s
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Terdapat keterangan yang bagus yang dijelaskan Syaikhul Islam dalam karyanya as-Siyasah as-Syar’iyah tentang kriteria pemimpin yang baik. Beliau menjelaskan,
وينبغي أن يعرف الأصلح في كل منصب فإن الولاية لها ركنان : القوة والأمانة
”Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal, itu memilikidua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah.”
Kemudian beliau menyitir beberapa firman Allah,
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. Al-Qashas: 26).
Dalil lainnya, pujian yang diberikan oleh penguasa Mesir kepada Nabi Yusuf,
إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi (kuat secara posisi) lagi dipercayai pada sisi kami”. (QS. Yusuf: 54).
Demikian pula karakter Jibril yang Allah amanahi menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya, karakter Jibril yang Allah puji dalam al-Quran,
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ( ) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ ( ) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), ( ) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, ( ) yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi amanah. (QS. At-Takwir: 19 – 21).
Demikianlah kriteria pemimpin ideal yang Allah sebutkan dalam al-Quran. Kuat dalam arti mampu secara profesional dan amanah.
Kemudian, Syaikhul Islam menjelaskan batasan kuat (mampu) dan batasan amanah,
والقوة في كل ولاية بحسبها فالقوة في إمارة الحرب ترجع إلى شجاعة القلب وإلى الخبرة بالحروب والمخادعة فيها فإن الحرب خدعة وإلى القدرة على أنواع القتال… والقوة في الحكم بين الناس ترجع إلى العلم بالعدل الذي دل عليه الكتاب والسنة وإلى القدرة على تنفيذ الأحكام
Sifat ‘kuat’ (profesional) untuk setiap pemimpin, tergantung dari medannya. Kuat dalam memimpin perang kembali kepada keberanian jiwa dan kelihaian dalam berperang dan mengatur strategi. Karena inti perang adalah strategi. Demikian pula kembali kepada kemampuan dalam menggunakan senjata perang…
Sementara kuat dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat kembali kepada tingkat keilmuannya memahami keadaan yang diajarkan al-Quran dan sunah, sekaligus kemampuan untuk menerapkan hukum itu.
Selanjutnya, beliau menjelaskan kriteria amanah
والأمانة ترجع إلى خشية الله، وألا يشتري بآياته ثمنا قليلا، وترك خشية الناس؛ وهذه الخصال الثلاث التي أخذها الله على كل من حكم على الناس
Sifat amanah, itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allah, tidak memperjual belikan ayat Allah untuk kepentingan dunia, dan tidak takut dengan ancaman manusia. Tiga kriteria inilah yang Allah jadikan standar bagi setiap orang yang menjadi penentu hukum bagi masyarakat.
Kemudian beliau mengutip firman Allah,
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)
Mampu (Profesional) dan Amanah, Mana Prioritas?
Anda semua tentu menyadari, untuk mendapatkan pemimpin yang memiliki dua kriteria ini sekaligus, sangat sulit untuk ditemukan. Hingga Syaikhul Islam di halaman lain dalam buku itu menyatakan,
اجتماع القوة والأمانة في الناس قليل، ولهذا كان عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- يقول: اللهم أشكو إليك جلد الفاجر، وعجز الثقة
Kemampuan dan amanah jarang bersatu pada diri seseorang. Karena itu, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah mengadu kepada Allah, ”Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu: orang fasik yang kuat (mampu) dan orang amanah yang lemah.”
Di sinilah Syaikhul Islam menyarankan untuk menerapkan skala prioritas. Mana karakter yang lebih dibutuhkan masyarakat, itulah yang dikedepankan.
Dalam posisi tertentu, sifat amanah lebih dikedepankan. Namun di posisi lain, sifat mampu dan profesional lebih dikedepankan.
Syaikhul Islam membawakan riwayat dari Imam Ahmad, ketika beliau ditanya,
’Jika ada dua calon pemimpin untuk memimpin perang, yang satu profesional tapi fasik, dan yang satu soleh tapi lemah. Mana yang lebih layak dipilih?’
Jawab Imam Ahmad,
أما الفاجر القوي، فقوته للمسلمين، وفجوره على نفسه؛ وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين. فيغزي مع القوي الفاجر
Orang fasik yang profesional, maka kemampuannya menguntungkan kaum muslimin. Sementara sifat fasiknya merugikan dirinya sendiri. Sedangkan orang soleh yang tidak profesional, maka kesolehannya hanya untuk dirinya, sementara ketidak mampuannya merugikan kaum muslimin. Dipilih perang bersama pemimpin yang profesional meskipun fasik.
Sebaliknya, jika dalam posisi jabatan itu lebih membutuhkan sifat amanah, maka didahulukan yang lebih amanah, sekalipun kurang profesional. Syaikhul Islam menyebutkan,
وإذا كانت الحاجة في الولاية إلى الأمانة أشد، قدم الأمين؛ مثل حفظ الأموال ونحوها
Jika dalam kepemimpinan itu lebih membutuhkan sifat amanah, maka didahulukan yang memiliki sifat amanah, seperti bendahara atau semacamnya.
Kemudian, beliau memberikan kesimpulan dalam menentukan pemimpin,
قدم أنفعهما لتلك الولاية وأقلهما ضررا فيها
Diutamakan yang lebih menguntungkan untuk jabatan itu, dan yang lebih sedikit dampak buruknya.
Demikian…
Disimpulkan dari as-Siyasah as-Syar’iyah, Syaikhul Islam, cet. Kementrian Agama Saudi, th. 1418 H. hlm. 13 – 17.

Nasehat Pemilu

Anda yang akan menyalurkan hak pilihnya, saat ini kita lebih membutuhkan amanah dan profesional. Ingatlah bahwa hak pilih kita termasuk amanah, dan persaksian di hadapan Allah. Yang semua itu nantinya akan kita pertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Jangan digunakan sembarangan dan jangan mengedepankan hawa nafsu. Allah mengingatkan kita,
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Takutlah kalian terhadap hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak didzalimi. (QS. Al-Baqarah: 281).
Allahu a’lam
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
 sumber: http://www.konsultasisyariah.com/bagaimana-kriteria-pemimpin-yang-baik-dalam-islam/

Fiqh Demokrasi

|0 komentar
Karakter Dakwah Membuat Musuh Islam Kesal
Oleh : Dr.H.Mohamad Taufik Qulazhar, MA.MEd.

Salah satu hasil dakwah adalah membuat musuh kesal. Mereka merasa rugi karena adanya dakwah. Oleh karenanya musuh Islam selalu membuat gerakan menghalangi dakwah. Kekesalan musuh karena keberadaan dakwah disebutkan dalam surah yasin. Allah berfirman:
“Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami.” (QS. 36:18)
Kenapa musuh Islam mengkambing-hitamkan dakwah  dan merasa bernasib malang? Jawabannya adalah karena karakter dakwah adalah merubah. Ketika para Rasul berdakwah ke negeri tersebut dan berusaha mengadakan perubahan maka mulailah musuh Islam terpojokkan dan merasa dirugikan.
Salah satu perubahan yang diciptakan dakwah adalah perubahan dalam aturan hidup. Merubah dari aturan jahiliyah menuju aturan cahaya Islam. Allah berfirman:
“Alif, laam raa.(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. 14:1)
Secara jelas ayat ini menyebutkan tujuan diturunkannya Al-Quran yaitu merubah manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Di titik inilah kemarahan musuh Islam terpicu. Karena bagi musuh Islam, aturan jahiliah menguntungkan dan menjadi jalan memperoleh dunia. Ketika aturan tersebut dirubah menjadi islami, mereka merasa kepentingan mereka terganggu.
Jadi, dakwah yang benar adalah membuat musuh Islam marah, dan bukan sebaliknya, membuat musuh gembira. Marah dikarenakan kepentingan dunia mereka terancam.  Kesal disebabkan oleh arus perubahan yang mengarah kepada  nilai dan aturan islami.
Fatwa Harus ditinjau dari Sisi Maslahah dan Mafsadah
Apabila Al-Quran menegaskan bahwa dakwah adalah membuat musuh Islam kesal. Maka nilai inipun harus ada ketika berfatwa. Fatwa tidak boleh menghasilkan manfaat bagi musuhIslam. Juga tidak boleh menimbulkan mafsadah bagi Umat Islam.
Oleh karenanya tahapan akhir dari sebuah fatwa adalah at-tathbiiq. Dalam fase ini fatwa ditinjau dari sisi maslahat dan mafsadahnya sebelum dirilis.
Demokrasi Haram, Siapa Diuntungkan?
Sebagai contoh apabila seorang mufti berpendapat bahwa demokrasi haram, maka sebelum masalah ini difatwakan harus melalui fase tathbiiq.  Ditimbang mashlahah dan mafsadah dari hukum tersebut. Apakah fatwa demokrasi haram menjadi mashlahat bagi umat Islam atau sebaliknya menjadi mafsadah dan menguntungkan musuh Islam.
Secara kasat mata, fatwa haramnya demokrasi hanya menguntungkan musuh Islam. Sebab di negara yang menganut sistem demokrasi, akan terpilih pemimpin yang tidak berpihak pada kepentingan Islam, bahkan pemimpin yang non Islam. Ketika diadakan pemilu, Umat Islam tidak ikut serta karena fatwa demokrasi haram. Akhirnya musuh Islam, baik munafiq atau kafir, diuntungkan dengan fatwa ini.
Dalam kondisi seperti ini fatwa harus ditangguhkan dan tidak dilaksanakan. Rasulullah saw. pernah menangguhkan sebuah perintah dari Allah saw. ketika beliau melihat bahwa pelaksanaan perintah tersebut hanya akan menimbulkan mafsadah dan kerugian bagi umat Islam.
Hal ini terjadi ketika Allah swt. memerintahkan untuk membangun ulang Ka’bah sesuai dengan pondasi yang dibuat nabi Ibrahim. Rasulullah saw. berkata kepada Ibunda Aisyah ra. bahwa kalaulah bukan karena kaum Quraisy masih baru dalam memeluk Islam, beliau akan menghancurkan Ka’bah.
Kalaulah sebuah perintah ditangguhkan karena diperkirakan akan menimbulkan bahaya bagi umat Islam, maka demikian pula fatwa. Fatwa demokrasi haram hanya menguntungkan musuh Islam dan para munafik, maka hendaknya fatwa haram demokrasi harus ditangguhkan. Apalagi saat ini hukum demokrasi masih menjadi silang pendapat di kalangan ulama.
Memahami Fiqih Waqi’
Ketidak-setujuan sebagian ulama terhadap demokrasi harus ditinjau dari fiqih waqi’, yaitu memahami dengan cermat situasi dan realita. Hal ini sangat penting dalam menentukan pendapat dan sikap. Rasulullah saw. tidak menghancurkan berhala yang terdapat di sekeliling Ka’bah ketika beliau masih berada di Makkah. Berhala-berhala tersebut baru dihancurkan ketika fathu Makkah, tahun 8 Hijriyah. Apakah pembiaran Rasulullah saw. terhadap berhala, semasa beliau di Makkah, akan  kita nilai tidak islami? Atau Justru mengajarkan kepada kita fiqih waqi’? Marilah kita bijak dalam menyikapi realitas kehidupan. Wallahu A’lam.

Fiqh Demokrasi, selamatkan negerimu! # Pemilu Demokrasi Itu Seperti Bunga Bank #

|0 komentar
# Pemilu Demokrasi Itu Seperti Bunga Bank # 
oleh : Ustad David Saputra, Lc
Para ulama Muslim kontemporer sudah sepakat bahwa bunga bank itu haram, karena termasuk ribawi. Tapi pernah diajukan pertanyaan oleh sebagian orang kaya Muslim yang menyimpan uangnya di bank-bank Swiss.
Mereka bertanya: “Bagaimana harus kami gunakan bunga bank ini? Jika tidak kami ambil, ia akan dikumpulkan untuk lembaga-lembaga Nashrani, lalu dipakai u...ntuk membiayai kegiatan Kristenisasi. Kalau kami ambil, ia haram hukumnya sesuai fatwa ulama. Apa yang harus kami lakukan?”

Akhirnya diberikan fatwa, bahwa bunga bank itu boleh diambil, lalu disedekahkan untuk pembangunan fasilitas sosial seperti jalan raya, jembatan, penerangan jalan, dan lainnya yang bukan bersifat konsumsi. Nah dalam konteks ini, situasinya mirip dengan pemilu demokrasi.

saya yakin semuanya setuju dg fatwa bunga Bank tsb, nah utk kasus pemilu knp masih ada yg tidak setuju dan menolak fatwa?
saya yakin semuanya setuju dg Kaidah Fiqh " Menempuh kerusakan yg lebih ringan" utk semua masalah dalam agama ini, nah knpa utk kasus pemilu kaidah tsb ditolak mentah2??

dimana letak kefaqihan anda dalam memahami, menganalisa kondisi negara kita hari ini? apakah anda rela negara kita spt negara Irak dan Iran yg dikuasai oleh Mayoritas Syi'ah melalui Pemilu??
bagi yg GOLPUT, apa kaidah fiqh atau dalil yg anda gunakan utk membantah FATWA2 ULAMA tsb?
siapa sebenarnya yg TA'ASSHUB dan MENGIKUTI HAWA NAFSU?