Tampilkan postingan dengan label Medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Januari 2017

Penelitian: Kopi Membantu Kesehatan Gigi

|0 komentar
Internet.DOC
Menenggak secangkir kopi bermanfaat bagi kesehatan gigi meskipun masih dalam perdebatan. Dilansir Foxnews, Rabu (10/9/2014), penelitian dari Boston University menunjukkan bahwa minum kopi dapat melindungi dari penyakit gigi seperti periondotal, peradangan gusi, dan tulang rahang. Setelah mempelajari lebih dari 1.000 orang berusia hingga 30 tahun, para peneliti menemukan bahwa mereka yang minum satu atau lebih cangkir kopi setiap hari memiliki sedikit gangguan pada gigi seperti penyakit periodontal. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa peminum kopi sedang atau berat mampu menghindari kerusakan pendarahan pada gus dan tulang rahang. Para peneliti percaya bahwa antioksidan dalam kopi dapat menjadi pelindung dari minuman itu. "Kopi bisa mematikan proses inflamasi tubuh sendiri yang biasanya dapat merusak gusi dan tulang rahang yang mendukung gigi," kata penulis studi Raul Garcia, DMD. Menurut Garcia, meminum kopi tidak perlu khawatir dengan noda kusam pada gigi. Dia menjelaskan kadar asam kopi lebih sedikit dibandingkan minuman seperti jus, soda, dan minuman energi.

Sumber: diskes.sumutprov.go.id

Sabtu, 21 Juni 2014

Lidah Buaya = Master Healing Plant

|0 komentar
Lidah buaya memang telah lama di juluki sebagai master healing plant. Selain sebagai obat penyembuh berbagai jenis pnyakit kulit,tanaman yang tumbuh di tempat panas ini memiliki 350 spesies yang tersebar diseluruh penjuru dunia termasuk di negeri kita Indonesia.

Tanaman lidah buaya (Aloe vera) merupakan tanaman yang dikenal sebagai tanaman hias dan banyak dijumpai dilingkungan sekitar kita yang keberadaannya sudah tak asing lagi. Penggunaan tanaman lidah buaya telah banyak dimanfaatkan untuk pengobatan yang saat ini telah diolah dalam bentuk lotion, liquid, tablet, kapsul, jus, untuk dijadikan masakan atau lainnya.

melihat kemampuannya sebagai penyembuh, lidah buaya kini banyak di tanam sebagai salah satu komoditi yang menjanjikan. Sebagai tanaman serbaguna yang dapat di gunakan secara tradisional untuk pemeliharaan rambut dan penyembuhan luka,lidah buaya juga menjadi sumber gizi yang tidak bisa diremehkan 

Jika unsur kalsium (Ca), magnesium (Mg), potasium (K), sodium (Na), besi (Fe), zinc (Zn), dan kromium (Cr) dikombinasikan dengan beberapa unsur vitamin dan mineral dapat berfungsi sebagai pembentuk antioksidan alami yang berguna untuk mencegah penuaan dini, serangan jantung, dan berbagai penyakit degeneratif. Selain itu daun lidah buaya segar mengandung enzim amilase, catalase, cellulase, carboxypeptidase, dan sejumlah asam amino arginin, asparagin, asam aspartat, alanin, serin, valin, glutamat, treonin, glisin, lisin, prolin, hisudin, leusin ,dan esoleusin yang sangat di butuhkan oleh tubuh.

Betapa dahsyatnya peran dari tanaman lidah buaya ini dalam kehidupan kita khususnya dalam bidang kesehatan. Berbagai manfaat diatas tak lepas dari peran senyawa-senyawa kimia yang berada didalamnya, maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut terhadap keuntungan lainnya yang akan didapat dari tanaman ini. Mari kita budidayakan tanaman ini untuk kini dan nanti.

Rabu, 11 Juni 2014

Si Cilukba, Gadis Berhijab

|0 komentar
Lama Menghilang, Artis Cilik Itu Kini Jadi Dokter Berhijab Artis Cilik, Maissy Cilukba Kini Berhijab (sumber Foto : Wikipedia.com)
Maissy, ya itulah dia, seorang penyanyi yang terkenal dikalangan anak-anak tahun 90-an. Dia sekarang menjadi seorang dokter berhijab. Kali ini, saya sungguh terkagum-kagum, maissy yang bagi saya cukup centil dulunya ternyata berhijab dengan anggun ketika sudah dewasa.
Pramaisshela Arinda Daryono Putri, yang belasan tahun lampau sohor dengan nama panggilan Maissy, kini sudah menjadi dokter. Saban hari bertemu orang sakit. Saban hari mengabdi menyembuhkan orang. Ya, dia memang seorang dokter. Dokter sebenarnya, bukan dalam lelakon.
Pada tahun-tahun 1990-an, Maissy-begitu nama sohornya, adalah seorang penyanyi cilik dengan sehimpun bakat. Sudah menelurkan banyak album. Tembang merdunya yang akrab di kalangan anak-anak belia pada tahun itu antara lain: Si Kuman Nakal, Jumpa Lagi, dan Idola Cilik.
Dan bukan itu saja. Dara cantik kelahiran  23 Maret 1990 ini, juga pernah menjadi bintang sinetron. Membintangi sinetron disalah satu stasiun televisi swasta.  Sepanjang bergelut dalam dunia keartisan Maissy telah membesut 12 album. Album terakhir dirilis satu dasawarsa silam, tahun 2003. Meski albumnya tergolong laris, semenjak saat itu si belia cantik itu hilang dari dunia hiburan. Hilang juga dari halaman berita.
Ke mana gerangan si presenter Cilukba itu? Mungkin orang sudah melupakannya. Mungkin banyak yang mencari, tapi tak pernah menemukan.
Belakangan baru kita tahu bahwa sicantik itu ternyata menepi demi pendidikan. Melupakan wangi harum dan keriuhan dunia hiburan, lalu membenam diri di bangku kuliah. Dia sukses menuntaskan pendidikan kedokteran dari Universitas Indonesia.
Dan menjadi dokter tampaknya sudah jadi pilihan hidup Maissy. Dia melewati sejumlah program intenship demi meraih gelar dokter. Terbenam di pelosok,  wilayah terpencil di daerah Kalimantan. Jauh dari hingar bingar. Jauh dari keriuhan ibukota. Meninggalkan dunia hiburan yang harum wangi yang sudah melambungkan namanya. Dan tugas di daerah terpencil itu sukses dilewati.
Awal tahun 2014 ini, Maissy  menikah dengan seseorang bernama Rizky, pria yang "dipetiknya" dari romantika di bangku kuliah. Maissy tidak hanya menemukan jodoh, tapi juga menemukan jalan hidupnya sendiri. Kini dia tampil bersahaja.
Penampilan baru itulah yang membuat sejumlah rekan selebritasnya pangling. Terutama sesama artis cilik yang berbelas tahun lampau sama berkibar. "Sekarang Dia terlihat sangat cantik mengenakan hijab,” kata Chikita Meidy, yang dulu juga sohor sebagai artis cilik.
Si Cilukba, yang dulu centil, energik dan periang itu, kini berubah menjadi sosok dokter yang anggun, ramah dan bersahaja dalam balutan jilbab

Assad, Dokter termuda di Dunia

|0 komentar
Mengenal Assad, Hijaber yang Jadi Dokter Termuda di Dunia

Siapa yang tak kenal Palestina? Negeri yang identik dengan perang sepanjang masa, perang untuk mempertahankan negerinya yang digerogiti penjajah. Namun, prestasi anak-anak Palestina cukup membuat hati terguncang, betapa hebatnya mereka dalam kondisi perang menciptakan generasi-generasi hebat. Salah satunya dokter termuda di Dunia. Inilah Assad.
Assad dengan cepat selalu pindah kelas dengan nilai terbaik. Tak heran, kalau di usia 7 tahun ia tamat SD. Pada usia 20, ia mendapat gelar sarjana di bidang kedokteran dengan nilai memuaskan.
Dear sahabat kimia kehidupan. Palestina negeri suci, negeri perjuangan, tak hanya ada walikota termuda, tapi juga dokter termuda. Dia adalah Iqbal Mahmoud Al Assad. Berkat prestasinya itu, Guinness World Records menetapkan gadis berhijab ini sebagai dokter termuda di dunia.
Sejak kecil Assad adalah seorang anak jenius. Setiap tiga bulan, secara menakjubkan dia 'menelan' program satu tahun seluruh sekolah. Assad dengan cepat selalu pindah kelas dengan nilai terbaik. Tak heran, kalau di usia 7 tahun ia tamat Sekolah Dasar.
Assad adalah putri dari seorang pengungsi Palestina dari Lembah Bekaa, Lebanon. Ia terdaftar di Weil Cornell Medical Collage di Qatar saat usianya baru 14 tahun.
Pada usia 20, dia mendapat gelar sarjana di bidang kedokteran dengan nilai memuaskan. Pemerintah yang membayar pendidikannya adalah Qatar.
Kini dia melanjutkan studi ke Ohio untuk menjadi dokter spesialis anak. Assad punya impian dan cita-citanya sejak kecil yakni membuka praktik di desanya, Bekaa.
Assad yang masuk dalam daftar 100 wanita paling berpengaruh di jazirah Arab 2014, berharap kedepannya akan muncul Assad lain, tetap punya semangat dan terus belajar meski dalam keadaan sulit sekalipun.

Berbagai Sumber

Senin, 26 Mei 2014

Obat Tak Selalu Baik

|0 komentar
Semoga bisa lebih cerdas lagi...
Alasan Dokter Negara Maju "Pelit" Memberikan Obat ke Anak
Belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ad...a perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.
"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.
"Ha? Just wait and see?" batinku meradang.
Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.
"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."
Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,
"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!
Setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.
"Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!"
Sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis. Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisart.
"Just drink a lot," katanya ringan.
"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.
"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.
Lalu ngapain dong aku ke dokter,tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!
"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak."
Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.
Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.
Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.
"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?"
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."
"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,"
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"
"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.
Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.
Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.
"Batuk - pilek beserta demam yang terjadi 6 - 12 bulan masih wajar.observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."
"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan penanganannya, Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.
Di Belanda 'dipaksa' tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.
Aku tercenung mengingat 'pengobatan rasional'. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!
Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Aku baru mengetahui ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat,dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidakmampuan,penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar,cukup berduit,melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?
Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya.Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
Semoga mencerahkan ya bunda-bunda, saya dapetnya dari artikel suami..
Sumber: http://ibuhamil.com